Code Bali 2018 membahas strategi keamanan dan kerjasama pengamanan siber. (BP/istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Konferensi internasional keamanan siber Code Bali 2018 digelar selama dua hari. Tema pada konferensi tahun ini yaitu “Cyber Security Solutions for the Emerging Threat : Protection in Critical Information Infrastructure and IoT World”.

Menurut Kepala Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) Djoko Setiadi, Selasa (9/10), pemilihan tema tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini yang tengah berada pada perkembangan teknologi yang begitu pesat dan memasuki era internet of things (IoT). Internet of things atau yang sering kita sebut IoT merupakan sebuah konsep yang memiliki tujuan memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus di ruang siber. “Era IoT telah membawa perubahan teknologi secara nasional dan global. IoT telah diterapkan pada bidang bisnis maupun sektor pemerintahan dan juga mulai diterapkan pada Infrastruktur Informasi Kritikal Nasional (IIKN),” sebutnya.

Diutarakannya, keamanan adalah salah satu aspek penting yang harus dipertimbangkan sejak awal perencanaan dan pengembangan suatu sistem atau layanan, termasuk pada teknologi IoT. Tanpa keamanan yang memadai, IoT tidak akan dapat menjadi bagian dari infrastruktur kritikal nasional yang aman karena serangan siber yang terjadi pada IIKN akan berdampak pada hajat hidup orang banyak. Sehingga, sangat diperlukan adanya proteksi terhadap teknologi iot guna membangun iikn yang aman dan terpercaya.

Baca juga:  Kepala BSSN Diminta Kerja Cepat Berantas Hoax

Menanggapi berbagai ancaman siber yang hingga saat ini begitu massive terjadi, ia menjelaskan pemerintah Indonesia membentuk BSSN melalui transformasi lembaga sandi negara yang mengemban tugas pemerintahan di bidang keamanan siber dan persandian dalam rangka mewujudkan keamanan nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. “Pengelolaan keamanan siber di Indonesia tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya keterlibatan dari berbagai stakeholder keamanan siber baik dari sektor pemerintah, publik, maupun infrastruktur kritis nasional,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan isu dari media internasional bahwa ada sebuah badan intelijen militer melakukan serangan siber yang menargetkan lembaga-lembaga politik, bisnis, media, dan badan olahraga di seluruh dunia. Dengan adanya perkembangan siber di dunia yang sedang menghangat ini, Indonesia membuka pintu kerja sama dengan negara manapun sesuai dengan kerangka politik luar negeri indonesia yang bebas aktif.

Terkait dengan hal tersebut, konferensi ini juga dinilai sangat tepat dalam menghadapi cyber war melalui kolaborasi dengan berbagai pihak dalam menciptakan kedaulatan siber yg aman dan damai di Indonesia, khususnya dan dunia pada umumnya. BSSN sangat mengapresiasi tujuan kegiatan konferensi “Code Bali” ini yaitu menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan siber dalam menghadapi ancaman yang semakin besar khususnya pada infrastruktur penting internet. (Diah Dewi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.