Ratna Sarumpaet memberikan klarifikasi terkait pemberitaan penganiyaan terhadap dirinya di Kediaman Ratna Sarumpaet, Kawasan Bukit Duri, Jakarta, Rabu (3/10). (BP/ant)

Ada yang menyebutkan pengakuan berbohong yang dilakukan Ratna Sarumpaet, salah seorang anggota tim sukses pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai sebuah kinerja aktor politik. Baik berbohong maupun pengakuan bohongnya itu merupakan kinerja aktor politik.

Apakah aktornya itu si pembohong sendiri atau ada aktor lain yang menggerakkan? Tetapi ada juga mengatakan bahwa itu merupakan kegagalan fatal dari sebuah sandiwara politik. Olok-olok di media sosial juga banyak yang muncul yang sebagian besar menyesalkan kejadian ini.

Bagaimanapun peristiwanya sudah terjadi dan itu harus dialami oleh bangsa Indonesia di tengah derita gempa Lombok dan Sulawesi Tengah. Tentu kita mencoba mencari sisi positif dari peristiwa ini.

Bahwa sebuah pengakuan, bagaimanapun lambatnya akan mampu memberikan sumbangan positif sebagai sebuah pelajaran. Prabowo Subianto, sebagai salah seorang calon presiden, di mana Ratna Sarumpaet merupakan salah satu tim suksesnya, malah menyatakan permintaan maaf dan mempersilakan untuk melakukan tindakan hukum terhadap kasus ini.

Kebohongan yang dilakukan ini kebetulan berada pada level nasional. Karena itu, wajar pula yang bertanya-tanya, apakah seceroboh itu harus melakukan manuver politik, dan apakah tidak dipikirkan bagaimana kemampuan teknologi sekarang untuk melacak kebohongan tersebut. Apakah memang ada aktor yang membuat fenomena ini terjadi?

Sebagai sebuah pendapat yang muncul di masyarakat, kita pandang itu sah-sah saja. Ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan masyarakat Indonesia berkomentar tentang masalah ini. Tidak mungkin kita dapat menahannya.

Sekali lagi, kita hargai permintaan maaf dari Prabowo Subianto atas terjadinya kasus pembohongan seperti ini. Jika saja masyarakat Indonesia tidak berduka dengan peristiwa gempa Lombok dan Sulawesi, mungkin kasusnya akan meledak.

Dalam konteks demikian, para politisi memang seharusya bersikap hati-hati. Pada level apa pun, baik di level lokal maupun nasional, para tokoh memang harus mempunyai rasa. Tidaklah etis, tidaklah pantas membuat segala move politik, apalagi kebohongan di tengah-tengah adanya bencana alam yang demikian menyengsarakan rakyat.

Baca juga:  Tentukan Capres, Gerindra Bantah Terbelah

Di sini kita tekankan bahwa politik dan politisi itu harus mempunyai rasa. Halusnya rasa politik itu akan mampu membawa kebahagiaan bagi masyarakat dan halusnya rasa politik tersebut, terlihat dari pembawaan dari politisi.

Pada konteks Indonesia saat ini, pembawaan itu ada pada wacana. Dari wacanalah kemudian masyarakat akan dapat menilai bagaimana sesungguhnya latar belakang yang sesungguhnya dari politisi bersangkutan. Lalu, wajarlah mereka dipilih atau harus dievaluasi lagi pemikirannya.

Sepanjang sejarah politik Indonesia kontemporer, kebohongan dalam politik tersebut banyak ditangkap oleh masyarakat. Akan tetapi tidak severbal dan senyata ini. Banyak masyarakat yag berkomentar bahwa politisi hanya menjanji-janjikan sesuatu di saat sedang kampanye, tetapi kenyataannya apa yang diungkap saat kampanye ternyata tidak sesuai setelah mendapatkan kursi. Ini juga sebuah kebohongan.

Ada juga model kebohongan yang munafik. Ketika memberikan bantuan sumbangan, sang politisi optimis dengan kemenangannya. Tetapi ketika kalah, bantuan itu ditarik. Ini juga kebohongan atau ketidaktulusan dalam berpolitik. Kebohongan yang kemudian diakui oleh Ratna Sarumpaet ini merupakan fenomena baru dalam politik Indonesia.

Tetapi, bagaimanapun buruknya  tindakan politisi tersebut, kita harapkan ini dapat dijadikan pelajaran oleh politisi lain di Indonesia. Mudah-mudahan fenomena seperti ini tidak terjadi lagi pada masa depan, entah kebohongan yang direkayasa oleh aktor maupun oleh si tukang bohong itu sendiri. Kita belajar untuk berpolitik bersih dan santun agar benar-benar mendapat simpati dari masyarakat. Kebohongan politik akan membuat masyarakat semakin menjauh.

 

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.