PALU, BALIPOST.com – Pemerintah kini memfokuskan aktifitas penanganan di Palu untuk evakuasi pencarian korban dan pemulihan kondisi infrastruktur, seperti perbaikan akses jalan dan perbaikan jaringan listrik. Selain itu, pendistribusian bantuan dan penanganan kesehatan juga terus dilakukan.

Berdasarkan rilis resmi BNPB hingga pukul 20.00 Rabu 3 Oktober 2018 korban meninggal dunia mencapai 1.832 yang tersebar di 34 lokasi. Sementara itu yang dilaporkan masih hilang mencapai 113 orang, tertimbun 152 orang, luka-luka 2.549, dan mengungsi sebanyak 70.821 orang tersebar di 141 titik.

Sejak Kamis (4/10), listrik di sejumlah kawasan sudah menyala normal kembali.
Semua pihak terus menerus, bahu membahu kerja keras untuk memulihkan kembali kondisi Palu, Donggala, Sigi.

Berdasarkan pantauan, antrean di sejumlah SPBU di Kota Palu, Sulawesi masih mengular. Deretan jerigen, sepeda motor dan mobil berjejer panjang di pinggir jalan menuju SPBU. Pasokan bahan bakar ke Palu masih terbatas.

Warga pun dijatah maksimal membeli Rp 100 ribu untuk pengisian kendaraan roda empat dan satu jerigen isi lima liter per orang bagi mereka yang datang ke SPBU menggunakan jerigen. Selain antrean di SPBU, pantauan di lapangan juga terlihat sejumlah petugas terus membenahi jaringan kabel listrik. Karena hingga saat ini, Palu masih krisis listrik sehingga gelap gulita pada malam hari. Hanya sebagian warga yang mampu menggunakan genzet untuk penerangan di rumahnya.

Baca juga:  Gempa 6,4 SR di Jatim, Tiga Orang Meninggal

Lampu baru menyala di fasilitas-fasilitas umum dan sebagian kecil di pemukiman warga yang ada di kawasan Palu Barat. Puing-puing bekas reruntuhan rumah, sampah-sampah yang terbawa hanyut tsunami, juga masih nampak di banyak titik di Kota Palu.

Namun, pada siang hari, di sejumlah ruas jalan, sudah mulai ramai lalu lalang kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Bukan hanya kendaraan pengangkut bantuan, ambulance atau mobil patroli petugas, juga kendaraan pribadi warga. Sebagian besar di kiri kanan jalan, rumah-rumah, pertokoan, warung, rata-rata tutup. Sama sekali tidak ada yang buka.

Warga juga rata-rata memilih bermalam di tenda-tenda di halaman rumahnya (selain yang di pengungsian) dengan alasan merasa lebih aman. Karena hingga saat ini, gempa skala kecil masih sering terjadi dan dirasakan warga Palu. (Bali Putra/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.