Kebun salak. (BP/kmb)

NEGARA, BALIPOST.com – Tanaman salak masih cukup jarang dibudidayakan petani Jembrana. Ini tentu berbeda dengan daerah di Bali lainnya seperti Karangasem yang sudah lama terkenal sebagai sentra tanaman salak. Namun kini salak berhasil dibudidayakan oleh   I Made Sunarya (58), warga Banjar Tibu Beleng Tengah, Desa Penyaringan Mendoyo.

Langkah Sunarya membudidayakan tanaman salak cukup berani, mengingat selama ini desa Penyaringan terkenal akan hasil buminya berupa cengkeh dan kakao. Pilihan berbeda itu mulai ditekuninya sejak tahun 1995, dengan menebang tanaman kakao yang lama dipeliharanya.
Sunarya menceritakan awal mula mengembangkan tanaman salak sebenarnya secara tidak sengaja, karena hanya memiliki 2 pohon tanaman salak yang tumbuh dipekarangan rumahnya.

Terdorong dari keingintahuannya , ia mencoba mengawinkan tanaman salak dengan metode persilangan, bibit jantan dengan betina (salak pondoh dengan salak Bali). Dikatakan seluruh bibit didapatinya cuma-cuma karena tumbuh dihalaman rumah. Didukung dengan pengetahuan seadanya, serta menonton siaran pertanian di TVRI saat itu, ia memberanikan diri membudidaya tanaman salak.

Hasilnya, cukup memuaskan dimana ia sukses menemukan varietas salak baru yang memiliki rasa manis dan enak. Rasanya mirip salak pondoh, namun memiliki tekstur daging  yang lebih lembek seperti salak Bali, dan ukuran buahnya lebih besar.  Setelah berkonsultasi dengan dinas pertanian perkebunan, varietas itu ia namakan salak gatri mengacu pada nama leluhurnya dulu yang memiliki tanah.

Nama Gatri itu pula dijadikannya nama dagang hingga kini.  Sejak itu ia makin semangat menanam salak . Setelah menebang tanaman kakao, diatas lahan seluas 60 are di areal depan rumahnya, Ia tanami 500 pohon salak . Namun hanya sekitar 150 pohon yang bisa hidup dan berbuah. Kini menanam salak sudah menjadi pekerjaan utamanya dibantu sang istri, serta anaknya . “ Hasilnya cukup lumayan . Dari lahan 60 are ini tiap 3 bulan saya bisa jual salak 150 kg kepada pengepul di sekitar sini. Perkilo saya jual Rp 10.000,” ungkap Sunarya ditemui dikediamannnya.

Baca juga:  CV Oke Tutup Delapan Sumur Bor Bodong di Tambak

Saat musim hari raya tiba pesanan salaknya yang datang cukup banyak sehingga merasa kewalahan. “Saya belum bisa penuhi untuk pasar luar baru diseputaran Jembrana saja. Lahan yang saya miliki juga tidak luas, sekaligus sebagai tempat tinggal, ” ujar bapak dua anak ini.
Salak ini sampai sekarang juga disebutnya mampu menghidupi keluarganya. Termasuk membiayai kuliah putra pertamanya hingga sarjana. Kini anaknya  sudah bekerja sebagai tenaga kontrak di Dinas Lingkungan  Hidup Pemkab Jembrana.

Ditambahkannya, budidaya salak sebenarnya tidak terlalu sulit. Hanya perlu mengontrol tanaman tiap hari, memangkas dahan, serta melakukan pencegahan hama. Hama yang sering muncul adalah jamur, ia atasi dengan memberikan kapur disekitar batang pohon salak. Pemupukannya pun cukup gampang, karena cukup diberi kotoran sapi, bukan pupuk kimia yang harganya relatif mahal.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Jembrana I Wayan Sutama membenarkan tanaman salak bukan komoditi unggulan di Jembrana. Masyarakat belum familiar menanam salak beda halnya dengan cengkeh, vanili ataupun kakao. Tanaman salak juga disebutnya sangat tergantung akan unsur hara sehingga satu daerah dengan daerah lainnya hasilnya belum tentu sama. Terhadap varietas lokal gatri yang ada di Penyaringan , Ia mengaku akan segera berkordinasi dengan Balai besar , karena kewenangan penetapan varietas ada disana. Pihaknya saat ini sudah mengajukan beberapa varietas lokal Jembrana untuk didaftarkan antara lain  kawista, pisang kayu, pisang lumut, deruju , kelapa genjah merah, serta kelapa genjah hijau.

Menurutnya ini  potensi lokal seperti salak gatri ini akan didukung sebagai potensi pertanian Jembrana sehingga bisa dikembangkan. (kmb/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.