Pura Jagatnatha di Pau mengalami kerusakan karena gempa. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Selain korban meninggal, umat Hindu di Palu juga mengalami kerugian material yang tidak sedikit. Selain itu, Pura Jagatnatha juga hancur karena guncangan gempa.

Sekretaris PHDI Sulawesi Tengah, I Ketut Suarayasa, Selasa (2/10), mengatakan meringankan derita umat Hindu di Sulawesi Tengah khususnya di Kota Palu, dukungan semeton Bali sangat diharapkan. “Pura Jagatnatha yang kami bangun sekitar 20 tahun lalu hancur. Bahkan tembok penyengker yang dibangun dua tahun lalu juga hancur,” jelasnya.

Ia mengatakan tak terhitung lagi korban harta benda termasuk rumah milik umat Hindu yang hancur. Kerugian umat Umat Hindu terdata tersebar di berbagai kabuapten di Palu.

Dijelaskannya untuk memudahkan komunikasi dengan umat, saat ini Kosentrasi penanganan bencana ada di dua posko, satu di Pura Jaganatha, Palu dan di balai Banjar Tanggul. “Kami berharap dukungan dan spirit untuk bisa membantu saudara kita yang tertimpa musibah,” ujarnya.

Ia mengatakan korban Umat Hindu terparah ada di wilayah Petobo, Palu. Daerah ini teredam lapisan lumpur. Dijelaskan, khusus di Kota Palu ada sekitar 5.000 umat Hindu. Rinciannya 500 KK umat Hindu yang terdata dengan umat sekitar 2.000 jiwa.

Baca juga:  Memory of The World UNESCO, Sayangnya Cerita Panji Tak Lagi Dikenal Anak Milenial

Di luar itu ada sekitar 1.000 jiwa lagi yang belum terdata oleh PHDI Sulawesi Tengah. Sedangkan 2.000 lainnya, umat Hindu di Kota Palu adalah mahasiswa. Mereka datang dari berbagai kabuapten di Sulawesi Tengah. “Nasib para mahasiswa ini yang belum kami data secara pasti. Saat bencana hanya sebagian kecil mahasiswa yang berkumpul di Posko Pura Jagatnatha. Kini mereka sudah pulang ke kampungnya,” jelasnya.

Suarayasa mengatakan 2.000 mahasiswa Hindu yang ada di Kota Palu dominan kuliah di Universitas Tadulako. Jumlahnya hampir 1.200 orang. Sedangkan sekitar 800 orang mahasiswa Hindu tersebar di empat Universitas swasta lain yang ada di Palu. “Mereka ada di Poltek Kesehatan dan Sekolah Tinggi Indonesia Jaya,” jelasnya.

Ia mengaku PHDI kini sedang melakukan pendataan terhadap Umat Hindu yang menjadi korban bencana dan memerlukan bantuan termasuk layanan kesehatan. Terkait dengan awal keberdaan Umat Hindu di Sulawesi Tengah, Suarayasa mengatakan berawal dari Perang Jagaraga sekitar 1896. Saat itu banyak warga Bali yang dikirim ke Sulawesi dan mereka menetap di wilayah Kabupaten Parigi Motong.

Kabupaten ini kini menjadi kosentrasi Umat Hindu di Sulteng dengan jumlah mencapai 100 ribu jiwa. Sedangkan warga Bali yang menuju Sulawesi ikut program transmigrasi mulai sekitar tahun 1960-an. Mereka menempati sejumlah daerah trasmigrasi di Sulawesi termasuk di Mamuju dan Donggala. “Mereka datang dari seluruh kabupaten di Bali saat ikut program trasmigrasi,” jelasnya. (Dira Arsana/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.