DENPASAR, BALIPOST.com – Ribuan mahasiswa dari perguruan tinggi di Bali, Sabtu (29/9), berkumpul di Lapangan Puputan Margarana, Renon, Denpasar Timur. Mereka mengikuti Deklarasi Pergerakan Mahasiswa Merajut Kebangsaan dihadiri Kapolda Bali Irjen Pol. Petrua Reinhard Golose dan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, Prof. H. Mohamad Nasir, Ak., Ph.D.

Sampai saat ini tidak ada indikasi mahasiswa Bali terlibat paham radikal. Dalam orasinya, Kapolda Irjen Golose dihadapan ribuan mahasiswa menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa dan civitas akademika yang telah menyelenggarakan kegiatan deklarasi ini.

Kegiatan ini merupakan wujud dukungan dari para mahasiswa dan civitas akademika untuk mendukung stabilitas keamanan negara khususnya di provinsi Bali. “Saat ini merupakan masa dimana berkembangnya Generasi Z, kaum milenial yang berkutat pada dunia teknologi. Dengan demikian pemahaman akan ideologi perlu ditanamkan karena perkembangan teknologi akan sangat mudah membawa pengaruh bagi pola hidup generasi penerus bangsa,” tegasnya.

Menurutnya, mahasiswa sebagai Generasi Z harus menjunjung tinggi konsensus dasar Bangsa Indonesia yaitu Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa (tidak ada kebenaran yang mendua). “Saya sangat bangga, mahasiswa Bali memiliki jati diri yang berbeda dengan mahasiswa lainnya. Tidak suka berdemo, tidak mudah terprovokasi dan tidak mudah terpengaruh politik praktis. Sebagai mahasiswa harus menjadikan Bali sebagai The Island of Students,” ujarnya.

Golose mengajak para mahasiswa untuk menjunjung tinggi tujuh nilai kebangsaan sebagai kristalisasi nilai yang terkandung dalam empat konsensus dasar Bangsa Indonesia, terdiri dari nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai demokrasi, nilai keadilan, nilai pluralis dan multi kulturalis serta nilai patriotis. “Saya dari aparat keamanan bersama menteri dan rektor sangat bersyukur, mahasiswa Bali sampai saat ini tidak ada indikasi yang kami temukan bahwa di Bali tumbuh paham radikal,” ungkap mantan petinggi BNPT ini.

Baca juga:  Tengah Malam, Polisi Bersenjata Turunkan Baliho dan Bendera Ormas

Bahkan lulusan Akpol 1988 ini menegaskan tidak melihat mahasiswa maupun mahasiswi di Bali berhubungan dengan jaringan yang menjurus pada terorisme. Pada kesempatan baik tersebut, Golose menyampaikan bahwa Bali akan menjadi tempat berlangsungnya IMF-WB Annual Meeting 2018 yang merupakan event kedua terbesar di dunia.

Pasalnya event tersebut melibatkan 189 negara dengan lebih dari 25.000 peserta. Menurutnya, IMF-WB ini diperkirakan kembali digelar Indonesia minimal 567 tahun lagi.

Selain itu, Indonesia juga akan melaksanakan agenda pesta demokrasi 2019, yaitu Pileg dan Pilpres. Ia berharap para mahasiswa harus netral, tidak mudah terprovokasi dan menjadi alat politik. Mahasiswa tidak ikut menyebarkan berita hoax sehingga Pilpres terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Sementara Prof. Mohamad Nasir, dalam orasinya mengatakan, perkembangan dunia begitu dahsyat dan terjadi perubahan yang begitu cepat saat menghadapi revolusi industri 4.0. Mahasiswa sebagai generasi muda harus membuang jauh hal-hal yang berbau SARA, radikalisme dan intoleransi. (Kerta Negara/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.