Petugas kehutanan saat berupaya memadamkan api. (BP/ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Kebakaran melanda kawasan hutan lindung yang ada di wilayah Desa Kutuh, Kintamani. Sedikitnya ada tiga titik hutan yang dilaporkan terbakar sejak Selasa (11/9) sore. Petugas dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Timur hingga Rabu (12/9) masih terus berupaya melakukan pemadaman api. Upaya pemadaman agak sulit dilakukan petugas lantaran lokasi hutan yang terbakar berada di jurang yang terjal dan sulit dijangkau armada pemadam kebakaran.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa kebakaran hutan lindung di Desa Kutuh terjadi sejak Selasa sore. Cuaca cerah dan cenderung panas membuat api dengan cepat menjalar dan membakar pepohonan yang ada di dalam hutan. Petugas kehutanan yang mendapat laporan tersebut langsung turun ke lokasi untuk memadamkan titik-titik api. Upaya pemadaman saat itu dilakukan dengan cara konvensional. Tak berhenti pada hari itu, Rabu (12/9) titik api kembali muncul di lokasi lainnya. Untuk mencegah kebakaran semakin meluas, petugaspun kembali turun untuk melakukan upaya pemadaman.

Kasi Perencanaan dan Pemanfaaatan Hutan UPT KPH Bali Timur Wayan Arimbawa seizin Kepala UPT I Made Warta saat dihubungi siang kemarin membenarkan adanya peristiwa kebakaran hutan lindung di wilayah Desa Kutuh. Dia mengatakan kebakaran yang terjadi pada Selasa terjadi di dua titik. Kebakaran pertama sempat berhasil dikendalikan pada Selasa malam, namun titik api kembali muncul di areal lainnya pada Rabu siang kemarin. “Yang sekarang muncul lagi 1 titik. Lokasinya masih di wilayah Desa Kutuh tapi dekat perbatasan dengan Buleleng. Yang sekarang kebakarannya cukup besar. Petugas saya saat ini masih di lokasi,” jelasnya.

Baca juga:  Cegah Kebakaran Hutan di Kintamani, Ini Imbauan BPBD Bangli

Untuk memadamkan api di areal hutan yang terbakar, pihaknya terpaksa melakukannya dengan cara konvensional seperti dengan memukul-mukul dengan dahan pohon, menutup titik api dengan tanah dan cara lainnya. Pemadaman titik api dengan menggunakan armada damkar, kata Arimbawa tidak memungkinkan untuk dilakukan. Sebab lokasi hutan yang terbakar berada di dasar jurang dengan medan yang terjal. “Kalau kita minta tolong BPBD bawa air juga sulit. Karena tidak ada akses untuk mobil ke sini. Jangankan bawa air, bawa diri sendiri saja sulit,” ujarnya.

Sementara itu disinggung mengenai penyebab kebakaran hutan kemarin, Arimbawa mengaku tak mengetahui secara pasti. Namun berdasarkan pengalaman sebelumnya, 90 persen kebakaran hutan di Bali selama ini disebabkan karena ulah manusia (human error). “Kalau tidak disengaja ya lalai. Lalai dalam artian, mungkin pas cari rumput untuk pakan ternak lupa mematikan puntung rokok. Sehingga ketika api kena angin dan panas jadilah bara. Pengalaman selama ini tidak pernah saya lihat ada pohon bergesekan sampai keluar api,” terangnya.

Atas kejadian kebakaran hutan ini, pihaknya pun kembali menghimbau kepada seluruh masyarakat yang beraktifitas di sekitar maupun dalam hutan untuk tidak melakukan aktifitas pembakaran. Masyarakat diminta untuk selalu bersmaa-sama menjaga kelestarian hutan. “Kita kalau melarang masyarakat 100 persen masuk ke kawasan hutan tidak mungkin. Kita imbau minimal masyarakat kalau ada aktifitas mencari pakan ternak ke hutan, agar selalu ingat menjaga kelestarian hutan. Jangan diabaikan. Kita sudah sering sampaikan imbaua ini saat penyuluhan,” kata Arimbawa. (dayu rina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.