AMLAPURA, BALIPOST.com – Prosesi melasti Ida Batara Luhur Gunung Agung yang disungsung dari Pura Kahyangan Jagat Penataran Agung di Nangka, Karangasem, digelar pada Kamis (15/9) pagi. Sepanjang jalan sekitar 20 KM yang bakal dilalui sampai ke Pantai Jasri, perjalanan pralingga melantaran (beralas kain putih), sebagai wujud bakti krama.

Hal itu terungkap saat dialog interaktif di Radio SWIB FM Karangasem, Rabu (12/9) tentang sosialisasi karya Agung melaspas, mamungkah, ngenteg linggih, padudusan agung dan tabuh gentuh pura kahyangan jagat yang berlokasi di tenggara lereng Gunung Agung di Desa Pakraman Nangka itu.

Ketua Panitia Karya Ir. Ida Made Alit menyampaikan, diperkirakan baru kai ini digelar karya agung di pura  kahyangan jagat itu. Karya ini digelar setelah selesai pemugaran seluruh palinggih di pura itu secara tuntas.

Dikatakan, Ida Made Alit,  pada zaman Gubernur Bali, Dewa Made Beratha memang di mulai pemugaran palinggih, namun belum tuntas. ‘’Setelah lama tak ada kelanjutan pemugaran palinggih itu, tahun lalu dituntaskan dan berdasarkan berbagai petunjuk dan ada juga menerima pawisik, tahun ini dengan puncaknya pada purnama kapat digelar karya melaspas dan rangkaian karya agung,’’ kata pria asal Budakeling itu.

Sekretaris karya, I Putu Arnawa menambahkan, sejumlah keistimewaan karya agung yang diperkirakan baru pertamakali ini, selain jumlah pangiring dan pamundut pralingga Ida Batara diperkirakan sampai 20 ribu, juga sepanjang jalan digelar kain putih sebagai ‘’lantaran’ atau alas perjalanan dari kain putih  yang bakal dilalui Ida Batara. Dari Pura Penataran Agung di Nangka itu sampai ke Pantai jasri diperkirakan sejauh 16 Km lebih. Perjalanan pamundut dari kalangan karma pengayah Desa Pakraman Nangka berjalan kaki sekitar 16 sampai 20 KM. Saat itu, seluruh pegawai Pemkab karangasem serta pelajar diharapkan ngaturang bakti serta ngiring melasti. Guna memperlancar lalu lintas, sopir truk galian C istirahat atau libur sehari itu, terutama yang bakal melintasi jalur utama pamelastian, yakni truk galian C dari galian wilayah Kecamatan Bebandem seperti Butus, Bukit Pawon, Nangka dan Linggasana, serta dari Kecamatan Kubu.

Baca juga:  Saksikan Melasti, Wisatawan Padati Tanah Lot

Selain jalur jalan raya lalu lintasnya dialihkan, saat iring-iringan pralingga Ida Batara mulai tampak melintas atau mendekat warga di pinggir jalan sepanjang yang bakal dilewati iringan diminta tidak berdiri. Namun, duduk dengan rapi dan sebaiknya sembari mencakupkan kedua tangan tanda bakti. ‘’Krama yang berniat ngaturang bakti bisa juga dengan ngaturang yasa baik berupa minuman atau pun buah-buahan ditujukan kepada ribuan pangiring. Paling penting bukan besar atau kecilnya bakti yasa, tetapi ketulusan acepan yasa kertinya,’’ ujar Putu Arnawa yang juga Kepala Dinas Kebudayaan Pemkab Karangasem itu.

Panitia yang mengkoordinasi lalu lintas Ida Bagus Putu Suwastika yang juga Kadishub Karangasem menyampaikan, saat pulang pamundut dan pangiring pralingga Ida Batara, bakal naik kendaraan. Diperlukan sekitar 350 truk untuk angkutan tersebut. Pihaknya bakal meminta bantuan para pengusaha galian C khususnya yang beroperasi di Kecamatan Bebandem seperti Butus, Bukit Pawon dan sekitarnya ikut mengerahkan armada truknya untuk mengangkut pangiring.

Ketut Wage Saputra, Kepala Santuan Pol PP Pemkab Karangasem mengharapkan prosesi melasti nantinya berjalan lancar dan tertib. Karena itu, seluruh krama atau masyarakat diminta tertib dan meyasa kerthi.

Ketua Panitia Ida Made Alit yang mantan anggota DPRD Bali itu menambahkan, usai puncak karya pada purnamaning kapat Senin (24/9), Ida Batara Kaaturan malinggih, nyejer selama satu bulan lebih tujuh hari atau selama 42 hari di balai pesamuan. Hal itu memberikan kesempatan lebih panjang krama ngaturang penganyar atau ngaturang sembah bakti . ‘’Karya agung ini baru dilakukan panyineban (penutupan) pada 5 November 2018,’’ tandas Ida Made Alit. (eka prananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.