DENPASAR, BALIPOST.com – Bali kini memiliki sejumlah infrastruktur baru. Sebelumnya, menjelang APEC tahun 2013, Bali memiliki jalan tol, saat ICCC PBB, Nusa Penida, Bali memiliki kincir angin, sebagai pembangkit tenaga listrik juga dibangun di Nusa Penida. Event yang diselenggarakan di Bali, membawa berkah bagi Bali.

Kini, menjelang IMF WB 2018 Bali dibuatkan jalan underpass Ngurah Rai. Underpass ini dinilai akan mampu mengatasi kemacetan yang terjadi di Bali selatan.

Menurut Praktisi pariwisata yang juga Wakil Ketua Umum 1 DPP IHGMA I Made Ramia Adnyana  menilai, underpass ini belum 100 persen efektif mengatasi kemacetan. Namun akan mampu membantu kelancaran lalu lintas di sekitar Simpang Ngurah Rai.

Proyek yang menghabiskan dana Rp 326 miliar ini adalah langkah yang diambil oleh pemerintah dalam upaya untuk mengurangi titik kemacetan yang terjadi selama ini.  “Namun, dimana – mana yang namanya akses ke bandara mestinya free high way dan tanpa hambatan atau kemacetan. Sebab akses ke bandara untuk mengejar pesawat,” ujarnya Selasa (11/9).

Meski demikian, seharusnya jalur ke bandara tidak perlu memutar lagi, terutama akses keluar dari tol Bali Mandara. “Mestinya langsung ke bandara, tanpa hambatan. Sehingga para wisatawan yang akan berangkat ke bandara merasa nyaman,” ungkapnya.

Namun sekarang semua kendaraan meluber dari tol Bali Mandara ditambah kendaraan dari arah Simpang Dewa Ruci. Semua kendaraan dari arah tersebut harus memutar di Bundaran Underpass Ngurah Rai. Sehingga kendaraan yang masih menumpuk yang mengakibatkan akses ke bandara menjadi lambat.

Senada dengan Ramia, General Manager Puri Saron Gusti Kade Sutawa juga mengatakan hal yang sama.Pengusaha rent car Bali I Made Mendra Astawa menilai dengan adanya underpass mampu mengurangi kemacetan, meningkatkan dalam pelayanan transfer transportasi baik untuk umum atau pariwisata.

Baca juga:  Belasan Kilometer Jalan dan Jembatan Rusak Akibat Bencana

Bali selatan mengalami kemacetan yang mempengaruhi tingkat kepercayaan wisatawan. Di balik kemacetan itu, semeton Bali di wilayah lainnya bisa memperoleh berkah. Wisatawan beralih dari Bali selatan ke Karangasem. Ada yang tinggal di Amed, Candidasa dan wilayah lainnya di Bali.

Meskipun demikian, Bali Selatan utamanya Kuta mencerminkan pariwisata Bali secara umum. Sehingga harus memberikan perwajahan yang bagus di pintu gerbang Bali itu. Dengan adanya underpass, paling tidak sudah mampu mengurai sekitar 25 persen kemacetan yang ada disana. Namun upaya mengurai kemacetan ini dinilai hanya sementara.

Persimpangan – persimpangan yang ada dalam rute premium di Bali sering menjadi pusat titik kemacetan. Maka dengan adanya underpass ini, Anggota Asosiasi Pengusaha Rent Car Daerah (Asperda) Bali ini mampu memecah kemacetan yang kerap terjadi pada titik – titik persimpangan.

“Masih banyak titik kemacetan, utamanya di persimpangan – persimpangan yang begitu crowded. Contohnya, di persimpangan Dewa Ruci. Dulu kita mengalami kemacetan yang cukup panjang, 30 menit – 60 menit kita harus berebut disana,” ungkapnya.

Dibandingkan dengan cara lain yaitu pembangunan flying over, underpass lebih mahal. Flying over akan lebih murah, namun yang menjadi kendala pembangunan flying over di Bali adalah kearifan lokal. Ada tempat – tempat suci di Bali yang tidak bisa dilalui dengan flying over.

Untuk mengatasi kemacetan, tidak hanya jalan yang perlu dipikirkan tapi juga transportasi publik yang nyaman dan murah. Karena pertumbuhan kendaraan baru lebih dari 1.000 setiap bulannya. Maka perlu dipikirkan jenis transportasi lainnya misalnya LRT (light rapid transit) atau MRT (mass rapid transit). (citta maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.