Burung hantu Tyto alba yang siap dilepas ke alam liar. (BP/san)

TABANAN, BALIPOST.com – Burung hantu jenis Tyto alba saat ini sedang gencar ditingkatkan populasinya oleh para petani di Tabanan. Salah satu penangkar burung hantu ini ada di Penebel.

Ketua Konservasi Burung Hantu Tyto Alba Uma Wali, I Made Jonita, Minggu (9/9) mengatakan keberhasilan meningkatkan populasi burung hantu Tyto alba telah memberikan hasil signifikan menekan populasi hama tikus yang biasa menyerang tanaman padi khususnya di Desa Senganan dan Babahan. Keberhasilan ini menyebabkan banyak petani yang tertarik untuk melepaskan burung hantu di daerahnya. Sayangnya meski permintaan akan burung hantu ini banyak, pihak konservasi tidak bisa memenuhinya karena keterbatasan pakan bagi burung hantu.

Jonita menjelaskan dalam menangkar burung hantu memang harus dilakukan sejak kecil. Ini lebih memudahkan untuk memindahkannya ke satu daerah. “Kalau menangkap yang sudah dewasa akan sulit karena mereka liar. Kalau dari kecil lebih gampang memindahkan dan melepaskannya saat sudah dewasa,” ujarnya.

Meski ditangkar dan dipelihara sejak kecil tetapi saat pemeliharaan burung hantu ini diusahakan seminimal mungkin kontak dengan manusia sehingga tidak jinak. Untuk mencari makan juga diajarkan memakan mangsanya dalam kondisi hidup. “Kita mengajarkan burung hantu ini seperti hidup di alam liar. Makanannya juga sejak awal diberikan mangsa alaminya yaitu tikus sawah,” ujar Jonita.

Baca juga:  Pengungsi Pilih Galungan di Posko Pengungsian

Uma Wali sendiri sudah melepas puluhan ekor burung hantu sejak tahun 2015. Beberapa ekor masih terlihat di Desa Senganan dan lainnya menyebar ke daerah lain untuk mencari daerah kekuasaan sekaligus makanan. Mengingat saat ini populasi tikus sawah di Desa Senganan sudah jauh berkurang.

Saat ini di penangkaran masih ada enam ekor burung hantu Tyto alba. Jumlah ini  belum bisa ditambah mengingat belum memasuki musim bertelur burung hantu. Terbatasnya populasi hantu dipenangkaran menyebabkan tidak bisa memenuhi permintaan di daerah lain seperti Gianyar dan Pupuan. Keterbatasan ini dikarenakan pihak penangkaran tidak bisa mengembangkan burung hantu dengan jumlah yang banyak karena keterbatasan pakan dalam hal ini tikus sawah. “Semakin sulit mendapatkan mangsa alaminya sekarang,” ujarnya.

Salah satu pemecahan masalah adalah dengan memelihara dan mengembangkan tikus sawah. Sayangnya pihak penangkaran tidak memiliki kapasitas baik dari segi tenaga maupun dana. “Berharap ada pihak ke tiga atau bantuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan ini,” ujar Jonita. (wira sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.