DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster berkomitmen untuk membangun era baru yakni kondisi Bali dengan tatanan kehidupan baru yang holistik mencakup tiga dimensi. Salah satunya yang paling prinsip dan menjadi harga mati adalah terpeliharanya keseimbangan alam, manusia, dan kebudayaan Bali (genuine Bali).

Ia menegaskan kesucian dan taksu alam Bali akan dijaga secara sekala dalam bentuk konservasi alam dan niskala melalui upakara pakertih yadnya secara periodik. Bali hendak dikembalikan sebagai pusat peradaban dunia yang selama ini membuatnya terkenal dan menjadi destinasi wisata dunia. Itu sebabnya, konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali tidak memungkinkan untuk dilaksanakannya rencana kontroversial reklamasi Teluk Benoa.

“Saya segera menuangkan dalam Surat Keputusan Gubernur bahwa rencana itu tidak dapat dilaksanakan. Tidak ada kaitan dengan menolak atau menerima, tapi secara filosofis memang tidak bisa dilaksanakan,” jelasnya, Sabtu (8/9), dalam rapat paripurna DPRD Bali.

Dari aspek manusia Bali, pengembangan jatidiri, integritas, dan kualitasnya turut menjadi titik perhatian Koster. Tentunya sesuai dengan nilai-nilai adat istiadat, agama, tradisi, seni, dan budaya serta kearifan lokal masyarakat Bali.

Khusus untuk penguatan adat istiadat, mantan anggota DPR RI ini mengaku siap memperhatikan kesejahteraan dan fasilitas kehidupan prajuru dan pecalang. Selain itu, akan memberikan bantuan keuangan khusus langsung ke desa pakraman/adat minimum Rp 300 juta per tahun. Begitu juga akan membangun kantor desa pakraman/adat yang representatif dengan sarana prasarana serta fasilitas yang memadai untuk mendukung kegiatan adat.

Baca juga:  Buntut Penutupan Pelabuhan Padangbai, Antrean Truk Terjadi di By Pass IB Mantra

Sementara terkait kebudayaan, Koster siap menjadikannya sebagai “hulu” yang menjiwai segala aspek pembangunan Bali. “Menjadikan kebudayaan sebagai basis dan pilar utama pembangunan perekonomian masyarakat Bali,” jelasnya.

Visi-misi yang disampaikan gubernur baru periode 2018-2023 ini diapresiasi oleh para bendesa. Salah satunya Bendesa Adat Cemenggon, Penarungan, Mengwi, I Gusti Ngurah Suarjana lantaran Koster-Cok Ace memiliki keberpihakan pada alam, budaya, dan juga adat istiadat di Bali.

Termasuk mendukung pernyataan Koster yang menegaskan rencana reklamasi Teluk Benoa tidak bisa dilaksanakan di Bali. “Dalam pidato beliau katanya juga akan menambah BKK desa pakraman, langsung lagi dari gubernur. Saya setuju sekali dengan itu karena program beliau cukup bagus,” ujarnya.

Suarjana menambahkan, BKK selama ini bermanfaat untuk pembangunan di desa disamping membantu meringankan beban upacara. Secara khusus, gubernur dan wakil gubernur baru diminta agar lebih merakyat serta memajukan adat dan budaya Bali. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.