Manager DTW Jatiluwih dan perwakilan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan saat memberikan keterangan terkait ajang festival yang akan digelar 14-15 September mendatang. (BP/bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Festival Jatiluwih kembali digelar untuk kali kedua, 14-15 September 2018 di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Penebel, Tabanan.  Menariknya, selama festival tersebut juga akan diramaikan sejumlah kegiatan berupa tradisi dan seni dari petani setempat seperti aktivitas membersihkan areal persawahan khas Jatiluwih atau “mejukut” massal dan “tebug lesung” oleh belasan lansia yang berkolaborasi dengan musisi nasional Gilang Ramadhan. Ini sesuai dengan tema festival ‘Matha Subak’ yang merupakan personifikasi Tri Hita Karana.

Manager DTW Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa, Kamis (6/9) menjelaskan kegiatan “mejukut” akan diikuti sekitar 200 petani di subak besikalung. Kegiatan ini pun diprediksi menjadi daya tarik wisatawan sekaligus fotografer karena juga disertakan lomba foto dan vidio.

Menurutnya, tradisi petani di kawasan pertanian yang masuk warisan budaya dunia dari UNESCO itu diharapkan menjadi daya tarik bagi pengunjung baik lokal dan wisatawan mancanegara. Dan diharapkan kedepan bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke obyek wisata dengan potensi, minimal naik rata-rata 50 persen jumlah kunjungan per hari. Dimana dari data kunjungan, selama bulan Agustus 2018 sebanyak 1.600 wisatawan asing, dan mengalami penurunan rata-rata 1. 000 perhari akibat dampak erupsi gunung Agung dan bencana alam lainnya. Namun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya di bulan yang sama, kunjungan relatif meningkat 400 wisatawan asing.

Baca juga:  Terinspirasi Tyto Alba, Tari Celepuk Dipentaskan Perdana di Festival Jatiluwih

Tema festival kedua yakni matha subak, lanjut kata Sutirtayasa hal ini lebih fokus untuk memberdayakan potensi yang ada di Desa Jatiluwih dengan mengkolaborasikan seniman dan musisi Bali maupun kancah Nasional. “Seperti kami di Desa Jatiluwih memiliki potensi bambu, kami undang musisi bambo Eko Parwoto. Karena sudah terkenal, harapan kami masyarakat bisa mencontoh kreatifitas sehingga bisa dikembangkan di Desa Jatiluwih,” ucapnya.

Terkait ketersediaan lahan parkir saat pelaksanaan event, mengingat seluruh kegiatan dilaksanakan di jalur umum, pihak penyelenggara mengantisipasinya dengan penerapan palet parkir.

Tak hanya itu, lanjut dia, festival kali ini juga menyuguhkan kuliner dari UMKM masyarakat desa setempat salah satunya minuman dan jajan khas Bali menggunakan beras merah, sebagai komoditas pertanian unggulan dari desa setempat. Selain juga olahan ikan yang diproduksi para petani dari program mina padi atau lahan pertanian yang dimanfaatkan untuk budi daya perikanan. (puspawati/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.