Tuak Manis khas Desa Belimbing, Tabanan. (BP/san)

TABANAN, BALIPOST.com – Memiliki lahan perkebunan yang tidak hanya ditanami kopi, Desa Belimbing juga memiliki pohon nira atau aren. Berada dalam kawasan Nikosake (Nira, Kopi, Salak dan Kelapa), Desa Belimbing saat ini sedang berbenah menjadi desa wisata. Untuk menunjukkan ciri khas, Desa Belimbing memilih tuak manis sebagai ikon minumannya.

Dalam memenuhi produksi minuman ini, Desa Belimbing memberdayakan kelompok wanita tani (KWT) salah satunya KWT Nila Lestari. Salah satu pengurus, Wayan Rasminiati saat ditemui di Festival Tanah Lot beberapa waktu lalu mengatakan, pembuatan tuak manis dari pohon Aren ini merupakan produk pelatihan dari Universitas Udayana. “Buatnya baru beberapa bulan ini. Biasanya KWT hanya membuat gula merah dari pohon Aren,” ujarnya.

Untuk satu botolnya dengan isi 500 ml tuak manis ini dihargai Rp 10.000. Tapi sayangnya minuman ini hanya ada di desa Belimbing dan khusus dibuat jika ada tamu atau wisatawan yang datang ke Desa Belimbing. “Minuman ini memang sengaja dibuat menjadi ikon Desa Belimbing. Jadi saat berkunjung ke Desa Belimbing akan ada minuman ini,” ujar Rasminiati.

Baca juga:  Berkunjung ke Taman Kupu-kupu Kemenuh, Ini Ikonnya

Rasa yang ditawarkan dari tuak manis dari pohon aren di Desa Belimbing ini segar. Rasanya manis dan sedikit asam. Karena tidak melalui proses fermentasi, tuak manis ini tidak mengandung alkohol dan aman diminum bagi semua usia.

Rasminiati melanjutkan, KWT Nila Sari beranggotakan 12 orang. Semua anggotanya memiliki pohon aren sendiri dan membuat gula aren. Menurutnya dalam sehari pohon aren menghasilkan lima liter air nira yang jika diolah menjadi gula aren menghasilkan satu kilogram saja. Untuk satu kilogram gula aren ini dijual Rp 40.000.

Jika dilihat dari segi keuntungan, diakui Rasminiati, lebih untung menjual tuak manis dibandingkan gula aren. “Selain lebih untung, pembuatan juga lebih cepat. Karena untuk membuat gula aren butuh waktu setengah hari,” ujarnya.

Meski demikian, karena merupakan tradisi pihaknya tidak meninggalkan pembuatan gula aren ini meski keuntungan dari tuak manis lebih menjanjikan. “Apalagi penjualan tuak manis hanya sebatas di desa Belimbing. Jika gula aren sudah dikenal dan berapapun kami buat selalu habis terjual,” imbuh Rasminiati. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.