DENPASAR, BALIPOST.com – Kreativitas adalah kunci kesuksesan. Itulah yang dilakukan Komang Sukarma (24), Mahasiswa Prodi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana (FIB Unud).

Ia membuat boneka cili dari daun lontar yang bisa digunakan untuk souvenir, plakat, boneka wisuda. Boneka itu dinamakan boneka Cilota Bali.

Pada awalnya, tidak terbayangkan bagaimana membuat boneka dari daun lontar. Namun saat Sukarma menunjukkan boneka-boneka ciptaannya, barulah terbayangkan bagaimana rumitnya membuat boneka itu.

Boneka Cilota itu dibuat dengan cara dianyam, kemudian dihias dengan kain serta kain kebaya menyerupai mahasiswa yang akan diwisuda. Dengan kemasan kaca yang cantik, jadilah boneka Cilota Bali menjadi souvenir atau plakat kreatifitas tinggi.

Sukarma menutukan, ia adalah anak yang berasal dari desa yang kering dan jauh di pelosok yaitu Desa Tianyar Barat, Kecamatan Kubu, Karangasem. Daerah itu memang kering, namun tersimpan kekayaan alam di dalamnya yaitu pohon lontar.

Di sanalah ia lahir dan dibesarkan. Dengan kekayaan alam yang dimiliki, sejak kecil ia sudah terbiasa membuat anyaman dari daun lontar. Kelopok, adalah produk yang kerap ia buat saat masih SD. “Dulu buat satu lusin, dua lusin, dijual ke Gianyar itu lumayan untuk bekal,” tuturnya.

Ribuan hektar lahan di sana tumbuh pohon lontar. Bahkan setiap 3 – 4 bulan daunnya tumbuh kembali. Sehingga di sana kaya akan daun lontar.

Dengan melihat potensi desanya, ia memiliki gagasan untuk membuat produk souvenir dari daun lontar. “Kalau buat tas dari lontar itu kan sudah banyak, makanya saya mencari ide untuk membuat produk lain. Terbersitlah untuk membuat boneka,” ungkapnya.

Di 2016, saat ada kesempatan lomba karya tulis ilmiah (LKTI) di Lampung, ia membuat esai tentang kreatifitas dengan memanfaatkan potensi desa yaitu lontar. Dibuatlah boneka Cilota. Dari lomba itu, ia ingin mengembangkan gagasannya itu. Boneka Cilota itu akhirnya menjadi plakat, souvenir, dan boneka wisuda.

Baca juga:  Mengenal Lebih Jauh Kampung Bali Nansan di Quanzhou

Boneka Cilota mengadopsi budaya cili dalam Hindu yang merupakan lambang kesuburan dan kemakmuran. Cili yang biasa digunakan sebagai simbol dalam Agama Hindu itu dimodifikasi, namun konsep bentuknya tetap segitiga.

Cili ini juga merupakan lambang keindahan, kecil, dan kecantikan. Dari budaya itulah, ia mendopsinya menjadi boneka cili lontar (Cilota).

Meski itu merupakan sebuah boneka dan pada akhirnya menjadi souvenir, namun banyak nilai yang terkandung di dalamnya.

Nilai Tri Hita Karana masuk dalam satu boneka. Yaitu, Palemahan yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan alam. Diimplementasikan dengan pemanfaatan barang bekas sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan.

Pawongan yaitu hubungan manusia dengan manusia. Konsep itu diimplementasikan dengan pemberdayaan masyarakat desa untuk membuat anyaman dari daun lontar itu.

Parahyangan, hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan. Dengan menggunakan konsep cili yang memberikan inspirasi padanya. Dengan demikian selalu mengingatkannya pada Tuhan.

Sejak diproduksi dari 2016 dan konsep yang matang pada 2017, Sukarma telah menerima banyak pesanan. Bersama timnya, ia memasarkan produk tersebut. Setiap bulan ada saja pesanan yang datang.

Untuk menyelesaikan satu boneka dibutuhkan waktu 3 hari sampai bulanan. Tergantung kerumitan dan besarannya.

Harganya pun beragam, dari Rp 50.000 – Rp 400.000. Itu juga tergantung kerumitan dan ukuran. Ia berharap fakultas yang ada di Unud serta Unud sendiri memanfaatkan produknya untuk dijadikan souvenir atau plakat. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.