Petani mengecek tanaman papaya yang sudah dieliminasi di Subak Purnajaya, Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, Senin (20/8). (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Petani di Subak Purnajaya, Desa Lebih, Kecamatan Gianyar mengeluhkan serangan jamur yang merusak tanaman papaya. Bahkan akibat jamur ini ratusan tanaman paya jenis Calina (California Indonesia) rusak. Ratusan tanaman itu pun langsung di eliminasi petani di subak tersebut. Akibatnya petani mengalami kerugiaan jutaan rupiah.

Petani Made Sulatra mengatakan tercatat dari 367 tanaman papaya jenis Calina yang ia pelihara di atas lahan miliknya seluas 1 hektar. Kondisi tanaman terserang penyakit ini sudah terlihat sejak 8 hari lalu. Supaya tidak menyebar ketanaman lain, petani yang juga polisi ini melakukan eliminasi tanaman. “Ada sekitar 145 tanaman papaya yang dieliminasi,“ katanya ditemui Senin (20/8).

Pepaya yang ditanam itu baru berusia 4 bulan dan belum waktunya panen. Kata Sulatra, ketika hama berupa bercak jamur keluar di buah dan batang, dia sudah sempat berkonsultasi dengan ahli pertanian di Denpasar. “Sudah dikasih cara menganggulangi, tapi tidak membuahkan hasil. Makanya tadi langsung saya eliminasi, daripada menjalar ke tanaman lain,” ujarnya cemas.

Dia juga telah melaporkan kondisi tersebut ke Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar. Petugas terkait pun diketahui langsung melakukan pengecekan ke Subak Purnajaya. “Tadi sudah dicek, sudah diberikan obat supaya tanaman lain tidak kena,” jelasnya.

Baca juga:  Petani Enggan Gunakan Benih Yang Tahan Virus Mosaik

Dikatakan menurut petugas ratusan tanaman pepaya jenis Calina ini membusuk akibat penyakit Antraknosa yang disebabkan oleh jamur. Akibat penyakit tersebut, pihaknya mengalami kerugian mencapai Rp 4 juta. “Kerugian dari pembibitan, sampai obat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Gianyar, Made Raka mengatakan petugas sudah diterjunkan ke Subak Purnajaya. Dikatakan dari luas 1 hektar, yang terdampak hanya 35 are. “ Jadi yang terdampa sebanyak 150-an tanaman pepaya. Kalau dilihat tanaman lain (yang tidak parah, red) juga terkontaminasi tapi masih diambang normal,” jelasnya saat ditemui di ruangan Senin siang.

Raka menjelaskan awal munculnya penyakit ini dapat dilihat melalui gejala berupa bercak hitam pada batang dan buah. Berca hitam ini sendiri muncul dari jamur. Selanjutnya terjadi proses pembusukan pada bagian yang terkena berca hitam tersebut layu. “ Ini disebabkan oleh jamur, yang tumbuh sebagai dampak fenomena iklim yani hujan yang belum waktunya atau kemarau basah,” jelasnya.

Raka juga menjelaskan cara penanggulangan kondisi ini, cukup dengan memangkas bagian yang terkena jamur atau bercak hitam. “ Bagian buah dan daun yang terserang dipetik. Lalu disemprot,” tandasnya. (manik astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.