Konfrensi pers kegiatan sanur village festival. (BP/ara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Lokasi Sanur Village Festival 2018 dipindah dari Lapangan Maisonette Inna Grand Bali Beach ke Pantai Matahari Terbit. Banyak alasan soal perpindahan tempat ini di antaranya tentang potensi pengembangan pariwisata seiring meningkatnya kebutuhan pasar pariwisata.

Upaya ini merupakan bagian dari rancangan pemetaaan zonasi dan pengembangan destinasi bagi kenyamanan para pengunjung festival, dan wisatawan yang bertandang ke Sanur. Selain itu, Pantai Matahari Terbit juga pernah digunakan sebagai lokasi Sanur Village Festival 2011 bersamaan dengan Festival Flora & Flori Nasional yang dihelat bersama Kementerian Pertanian. Pada awal pelaksanaan, festival ini pernah digelar di Pantai Mertasari.

Sejumlah gagasan dan perencanaan ke depan pengembangan pariwisata Sanur juga punya andil besar dalam kepindahan lokasi ini. Salah satunya, proyek pengembangan Pantai Matahari Terbit dengan pembangunan fasilitas terpadu marina, boat lounge, amphitheater, wantilan, stal bisnis dan retail, pasar tradisional, ruang menikmati pantai secara nyaman sampai hingga tempat pendaratan helikopter (helipad).

Ketua Umum Sanur Village Festival yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata daerah (BPPD) Kota Denpasar Ida Bagus Gde Sidharta Putra, senin kemarin  mengatakan kota ini memerlukan ruang publik dengan fasilitas pendukung yang bagus serta diyakini dapat menggeliatkan beragam bisnis pariwisata, industri kreatif, pertanian, perikananian, dan aneka hiburan lainnya.

“Pemindahan lokasi festival untuk menjajaki berbagai kemungkinan perluasan kawasan destinasi dan memberikan keleluasan serta kenyamanan kepada pengunjung,” katanya, belum lama ini.

Sanur Village Festival 2018 akan digelar pada 22-26 Agustus dengan tema ‘Mandala Giri’ yang merupakan sebuah semangat pemikiran untuk memusatkan perhatian kembali kepada Gunung Agung. Ketika aktivitas vulkanik Gunung Agung meningkat pada November 2017 dan berulang erupsi hingga saat ini adalah kenyataan yang memberikan refleksi dalam hal kemanusiaan, persaudaraan, dan pendekatan terhadap alam.

Baca juga:  Dipertanyakan Lagi, Pembangunan Patung Dewa Baruna

Sanur meskipun tidak memiliki gunung, tetapi dari kawasan pantai dapat disaksikan panorama Gunung Agung yang anggun. Selain itu Sanur memiliki pura yang merupakan pelinggih Gunung Agung, seperti terdapat di Pura Giri Kusuma yang bermakna candi bunga yang dibangun di tengah air. Hal ini mencerminkan telah adanya kesadaran pentingnya gunung.

Bagi masyarakat Bali, letusan gunung bukan hanya sebagai pralina, tetapi juga utpeti atau proses penciptaan kehidupan baru. Aliran mineral yang dibawa oleh air dan abu gunung memberikan kesuburan dan kerahayuan atau kesejahteraan. Peristiwa erupsi juga diartikan sebagai tanda-tanda alam bagi kehidupan manusia.

Saat Gunung Agung meletus pada 1917, dianggap sebagai teguran dewata karena manusia mengabaikan Pura Besakih. Begitu letusan pada 1963 dipercaya sebagai bentuk kemarahan dewata karena terjadi ketidakseimbangan lingkungan serta tingkah laku manusia yang lalai menghormati dewa.

Meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Agung secara sains telah banyak dikupas, tetapi di balik itu barangkali bisa dimaknai pula secara spiritual sebagai tanda-tanda alam yang memberikan kesadaran bagi manusia untuk mengambil kearifan penyikapan ke depan.

Semangat inilah menurut Gusde yang hendak dihimpun menjadi kekuatan yang senantiasa menyadarkan kita untuk berempati, ‘menyama braya’ maupun hormat dan berbuat yang terbaik bagi alam. Masyarakat Bali yang menjujung filosofi kehidupan Tri Hita Karana, dingatkan secara terus-menerus untuk menjaga Bali baik secara keduniaan maupun taksunya.

Kekeluargaan, gotong royong (ngayah), metetulung, dan rasa memiliki telah terbukti mengantar festival ini menjadi kegiatan komunal yang memberikan kemanfaatan nyata bagi warga dan sejumlah komunitas desa pesisir ini dan sekitarnya. Spirit kreativitas, motivasi, dan inovasi ala Sanur yang diwadahi dan disalurkan melalui festival ini bakal terus dikembangkan untuk mewujudkan tatanan sosial dan budaya yang berkesejahteraan dan berkedamaian. (Asmara Putera/Balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.