Jalan di kawasan Munduk Nangka, Berangbang, Negara. (BP/kmb)

NEGARA, BALIPOST.com – Warga di kawasan Munduk Nangka, Banjar Tangimeyeh, Desa Berangbang, Jembrana mengharapkan adanya akses jalan. Selain akses menuju objek agrowisata Munduk Nangka yang hingga kini belum mendapatkan rabat beton demikian juga jalan menuju ke permukiman warga sekitar juga masih dikeluhkan lantaran selain belum dirabat beton.

Jalan tanah tersebut saat hujan sulit untuk dilewati oleh warga yang telah bermukim puluhan tahun diwilayah tersebut. Dari pantauan akses jalan masuk hanya dirabat beton hingga di Bale Subak Pangkung Jelepung I Berangbang, sedangkan jalur ke timur menuju lokasi persawahan yang dijadikan objek wisata oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Banjar Tangimeyeh masih berupa tanah yang dipadatkan.

Selain itu akses jalan ke selatan menuju permukiman warga masih tampak seperti jalan setapak di tengah-tengah tegalan. Bahkan untuk bisa melintas pada jalan tanah menuju pemukiman dengan lebar tiga meter ini harus ekstra hati-hati lantaran kondisi jalan yang compang-camping.

Selain banyak kendaraan pengunjung yang melintasinya, juga menjadi satu-satunya akses jalan ke permukiman. Warga berharap jalan ini segera bisa diperbaiki karena selain dilalui warga juga akses untuk mengangkut hasil kebun warga.

Penjaga Objek Wisata Munduk Nangka, Putu Sumiarta, Minggu (19/8), mengatakan warga ingin agar jalan bisa seperti gang-gang di wilayah lain yang sudah dirabat sampai ke pelosok-pelosok yang tidak ada warganya. “Dulu awalnya dikira semuanya dirabat tapi hanya sampai di Balai Subak padahal penting sekali untuk angkut hasil kebun yang jadi mata pencaharian kami. Mungkin karena jalannya seperti ini listrik juga belum masuk ke sini. Warga juga swadaya beli krokol. Apalagi ada offroad jalan jadi tambah hancur,” tandasnya.

Karena kunjungan ke objek wisata Munduk Nangka selalu ramai bahkan hingga ratusan perhari serta setiap hari dilalui petani maupun kendaraan pengangkut ternak dan hasil sawah, pihaknya berharap akses jalan ini bisa segera diperbaiki. Jalan tersebut, katanya, melingkar tembus ke Banjar Pengajaran dan perbatasan Berangbang, sudah dibuka 2008 tapi belum ada bantuan.

Kondisinya kalau hujan berlumpur, kalau kemarau berdebu, diperparah lagi kalau ada offroad. “Karena sering dilalui sehingga krama subak yang perbaiki dan sudah sering koordinasi ke desa. Kalaupun tidak ada bantuan uang, minimal akses jalannya saja yang diperbaiki, yang lain sampai ke pelosok sudah dihotmix,” ungkapnya.

Salah seorang warga Munduk Nangka, I Made Astika (36) mengatakan akses jalan tanah menuju ke permukiman warga Tempek I itu merupakan jalan umum yang sudah dibuka sejak dirinya masih anak-anak. Menurutnya warga yang tinggal di Munduk Nangka ini merupakan warga lokal yang sudah bermukim secara turun temurun. “Di sini tidak ada pendatang, warga yang tinggal di sini turun menurun karena warisan dari orang tua. Saya saja dilahirkan di sini,” tuturnya.

Perbekel Berangbang dikonfirmasi mengakui sampai saat ini belum semua akses jalan desa yang ada di wilayahnya bisa secara ke seluruhan tersentuh rabat beton maupun pengaspalan karena keterbatasan anggaran. Perbaikan jalan menurutnya dilakukan bertahap sesuai usulan masing-masing banjar. (kmb/balipost)

Baca juga:  Pembangunan Permukiman Warga Dusun Yeh Mampeh Terkendala Cuaca

 

Warga Munduk Nangka Berangbang Harapkan Akses Jalan
Negara, DenPost
Warga di kawasan Munduk Nangka, Banjar Tangimeyeh, Desa Berangbang, Jembrana mengharapkan adanya akses jalan.
Selain akses menuju objek agrowisata Munduk Nangka yang hingga kini belum mendapatkan rabat beton demikian juga jalan menuju kepermukiman warga sekitar juga masih dikeluhkan lantaran selain belum dirabat beton.
Jalan tanah tersebut saat hujan sulit untuk dilewati oleh warga yang telah bermukim puluhan tahun diwilayah tersebut.
Dari pantauan akses jalan masuk hanya dirabat beton hingga di Bale Subak Pangkung Jelepung I Berangbang, sedangkan jalur ke timur menuju lokasi perawahan yang dijadikan objek wisata oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Banjar Tangimeyeh masih berupa tanah yang dipadatkan.
Selain itu akses jalan ke selatan menuju permukiman warga masih tampak seperti jalan setapak di tengah-tengah tegalan.
Bahkan untuk bisa melintas pada jalan tanah menuju pemukiman dengan lebar tiga meter ini harus ekstra hati-hati lantaran kondisi jalan yang compang-camping.
Selain banyak kendaraan pengunjung yang melintasinya, juga menjadi satu-satunya akses jalan kepermukiman.
Warga berharap jalan ini segera bisa diperbaiki karena selain dilalui warga juga akses untuk mengangkut hasil kebun warga.
Penjaga Objek Wisata Munduk Nangka, Putu Sumiarta Minggu (19/8) mengatakan warga ingin agar jalan bisa seperti gang-gang diwilayah lain yang sudah dirabat sampai ke pelosok-pelosok yang tidak ada warganya. “Dulu awalnya dikira semuanya dirabat tapi hanya sampai di Balai Subak padahal penting sekali untuk angkut hasil kebun yang jadi mata pencaharian kami. Mungkin karena jalannya seperti ini listrik juga belum masuk kesini. Warga juga swadaya beli krokol. Apalagi ada offroad jalan jadi tambah hancur,” tandasnya.
Karena kunjungan ke objek wisata Munduk Nangka selalu ramai bahkan hingga ratusan perhari serta setiap hari dilalui petani maupun kendaraan pengangkut ternak dan hasil sawah, pihaknya berharap akses jalan ini bisa segera diperbaiki.
Jalan tersebut katanya melingkar tembus ke Banjar Pengajaran dan perbatasan Berangbang, sudah dibuka tahun 2008 tapi belum ada bantuan. Kondisinya kalau hujan berlumpur kalau kemarau berdebu, diperparah lagi kalau ada offroad. “Karena sering dilalui sehingga krama subak yang perbaiki dan sudah sering koordinasi ke desa. Kalaupun tidak ada bantuan uang, minimal akses jalannya saja yang diperbaiki, yang lain sampai kepelosok sudah dihotmik,” ungkapnya.
Salah seorang warga Munduk Nangka, I Made Astika (36) mengatakan akses jalan tanah menuju kepermukiman warga Tempek I itu merupakan jalan umum yang sudah dibuka sejak dirinya masih anak-anak.
Menurutnya warga yang tinggal di Munduk Nangka ini merupakan warga lokal yang sudah bermukim secara turun temurun. “Disini tidak ada pendatang, warga yang tinggal disini turun menurun karena warisan dari orang tua. Saya saja dilahirkan disini,” tuturnya.
Perbekel Berangbang dikonfirmasi mengakui sampai saat ini belum semua akses jalan desa yang ada diwilayahnya bisa secara ke seluruhan tersentuh rabat beton maupun pengaspalan karena keterbatasan anggaran. Perbaikan jalan menurutnya dilakukan bertahap sesuai usulan masing-masing banjar. (120)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.