SINGARAJA, BALIPOST.com – Perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 tidak saja diisi dengan tabur bunga atau upacara bendera, namun ada kegiatan lain yang dilakukan warga di Buleleng. Utamanya keluarga veteran pejuang.

Mereka dengan khusyuk menggelar persembahyangan di Tamam Makam Pahlawan (TMP) Curastana, Singaraja Jumat (17/8). Upacara ini rutin digelar setiap tahun untuk memohon tuntunan dari leluhur yang semasa hidupnya ikut berjuang merebut Kemerdekaan Bangsa.

Suasana di kawasan TMP Curastana, Singaraja ramai dipadati keluarga veteran sejak pagi hingga siang hari. Warga hilir mudik ke dalam TMP lengkap dengan pakaian adat ke pura. Tidak lupa warga membawa sarana upacara banten penek atau di daerah lain dikenal dengan banten soda atau punjung.

Sarana upakara ini berisi buah, jajan, nasi tumpeng, daging ayam, telur, dan beberapa bahan lain. Selain setiap 17 Agustus, persembahyangan di TMP Curastana sering dilakukan keluarga Veteran Pejuang Kemerdekaan bersamaan dengan Galungan, Kuningan, dan Pagerwesi yang menjadi tradisi warga di Bali Utara.

Umumnya persembahyangan dilakukan di Padmasana, Tugu TMP Curastana, dan terakhir di masing-masing kuburan. Setiap rombongan keluarga veteran ini melakukan persembahyangan dengan dipimpin tokoh di keluarga bersangkutan.

Baca juga:  PLN Sambut HUT RI dan Asian Games dengan "Gebyar Kemerdekaan"

Salah seorang keluarga veteran, Nengah Nami asal Dusun Celuk Buluh, Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, menuturkan, sehari menjelang HUT Kemerdekaan dirinya telah mempersiapkan sarana upakara yang dipersembahkan untuk almarhum kakeknya yang gugur dalam perjuangan merebut Kemerdekaan. Dia bersama keluarga besarnya datang ke TMP Curastana untuk menghaturkan banten penek yang dibuatnya.

Dia meyakini kalau tidak menghaturkan banten penek untuk almarhum leluhurnya itu, akan terjadi sesuatu yang tidak enak di keluarganya. Selain itu, karena setiap persembahyangan 17 Agustus, Nengah Nami dan keluarganya ingin mendapat tuntunan, kerahayuan, dan dimudahkan mendapat rejeki di masa kemerdekaan ini. “Rutin kalau sudah 17 Agustus kami sama-sama sembahyang ke sini, kalau tidak sempat perasaan tidak enak, karena bagaimanapun leluhur kami ini dimakamkan di sini, jadi wajib persembahkan banten dan memohon tuntunan dan keselamatan dalam menjalani kehidupan ini,” katanya.

Senada diungkapkan keluarga veteran pejuang asal Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Luh Widiasih. Dia mengatakan, persembahyangan di TMP ini untuk menghaturkan bakti kepada leluhurnya. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.