Wisatawan mempelajari aktivitas warga lokal di salah satu homestay. (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Sebagai akomodasi yang memanfaatkan rumah penduduk, homestay menjadi salah satu pililhan yang cukup diminati wisatawan. Homestay pun  berkembang pesat tidak hanya di kawasan Ubud.

Menurut Ketua Ubud Homestay Association (USHA), IB Wiryawan, Senin (13/8), di Kecamatan lain seperti Tegallalang dan Sukawati, bisnis homestay juga mulai marak. “Perkembangan homestay di Tegallalang cukup tinggi, di seputaran Desa Kemenuh, Kecamatan Sukawati juga demikian,” katanya.

Diungkapkan minat wisatawan untuk tinggal di homestay yang lokasinya dekat kawasan Ubud ini pun cukup tinggi. Apalagi saat ini homestay di kawasan Ubud selalu full book.

Namun untuk di luar kawasan Ubud, Tegallalang dan Sukawati, minat terhadap homestay masih minim. “Mungkin kondisi ini juga disebabkan dalam manajemen homestay itu sendiri yang belum optimal,” katanya.

Dikatakan, USHA memastikan pengelolaan homestay dengan kuailtas modern, namun tetap menawarkan aktivitas tradisional yang berbasis seni dan budaya. “Jadi homestay menawarkan pengalaman tinggal d rumah masyarakat Bali. Wisatawan bisa menikmati kuliner hingga mengikuti langsung aktivitas budaya dan keseharian sebagai masyarakat Bali,” jelasnya.

Baca juga:  Wisatawan Abadikan Melasti di Tanah Lot

Menurut pria yang akrab disapa Gus De Wiryawan ini perlu ada persamaan persepsi terkait pengelolaan homestay. Sebab, yang menjadi persoalan ialah homestay masih dianggap sebagai akomodasi murah. “Kenyataanya tidak demikian,” tegasnya.

Dikatakan saat ini wisatawan yang menginap di homestay yang berlokasi di Ubud dominan asal Eropa, seperti Swedia dan Belgia. “Jadi ini seperti konsumen baru yang datang ke Ubud, sementara Belanda, Jerman dan lainnya masih tetap setia tinggal di Ubud,” katanya.

Selain itu wisatawan Australia juga cukup banyak tinggal di Ubud. Sedangkan wisatawan Asia, khususnya Tiongkok, dominan datang ke Ubud hanya melancong. “Jarang ada wisatawan China yang menginap, kalau pun ada palingan hanya sehari,” katanya.

Berdasarkan peningkatan okupansi ini, Gus De pun mengakui sejumlah homestay meningkatkan nilai kamar per malam. Dari yang awalnya sekitar Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu, menjadi Rp 350 hingga Rp 400 ribu. Bahkan untuk kamar yang paling mahal bisa dipasang tarif hingga Rp 600 ribu per malam. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.