Bantuan bibit babi. Peternak kini memilih pembibitan babi karena lebih menguntungkan. (BP/dok)

TABANAN, BALIPOST.com – Meski harga jual babi hidup ditingkat peternak saat ini mengalami peningkatan, ternyata peternak saat ini lebih memilih usaha ternak pembibitan babi atau kucit dibandingkan ternak penggemukan babi. Hal ini dikarenakan dari hitung-hitungan harga jual dengan biaya produksi, ternak pembibitan babi dipandang lebih menguntungkan.

Salah satu peternak babi di Tabanan I Nyoman Ariadi (48) asal Yeh Gangga Sudimara, Tabanan mengatakan,  saat ini ia lebih fokus kepada pembibitan babi. “Dua-duanya saya jalani. Ternak pembibitan dan penggemukan. Tetapi sekarang lebih fokus ke pembibitan karena lebih menguntungkan,” ujarnya, Senin (13/8).

Saat ini harga  bibit babi atau kucit dengan umur antara 35 sampai 40 hari sekitar Rp 800 ribu perekor untuk eceran. Sementara untuk  grosiran atau borongan dikisaran harga Rp 750 ribu per ekor.  Harga ini lebih menguntungkan untuk pembibitan dibandingkan dengan penggemukan.

Meski demikian lanjut wakil ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (Gupbi) Daerah Bali ini, ia  tetap melakukan usaha penggemukan babi. “Soalnya usaha ternak penggemukan sudah ditekuni sejak lama. Dan jual babi hidup  juga tinggi. Saat ini harga daging babi hidup dengan berat 100 kilogram ke atas mencapai Rp 35 ribu per kilogram. Sedangkan dengan berat di bawah 100 kilogram  berkisar Rp 32-33 Ribu perkilogramnya,” ujarnya.

Baca juga:  Ini, Pemicu Naiknya Harga Babi di Pasaran

Hal senada disampaikan peternak  babi lainnya I Gusti Putu Winiantara. Peternak babi asal Banjar Tandan, Gubug, Tabanan mengakui usaha pembibitan babi saat ini, relatif lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan penggemukan.

Diakui, dirinya saat ini memang fokus melakukan pembibitan karena permintaan  bibit babi (kucit) sangat tinggi belakangan ini. “Saat ini saya memelihara 40 indukan dan rencana ditambah menjadi 50 ekor,” ucapnya.

Disebutkan, dengan perbandingan harga pakan, vaksinasi untuk indukan babi dengan hasil penjualan kucit saat ini relatif memberi untung lebih banyak. Asumsinya, keuntungan ini bisa tercapai jika seekor indukan sekali beranak menghasilkan enam ekor anak babi. “Kalau perhitungan dengan harga pakan dan biaya produksi yang dihabiskan, jika satu indukan  memiliki minimal enam ekor anak,” sebutnya.

Kalau anak babi di bawah enam ekor dipastikan peternak merugi untuk hitungan satu indukan. Namun sangat jarang indukan babi beranak kurang dari enam ekor, kecuali ada sesuatu permasalahan seperti penyakit dan faktor lainnya. “Biasanya babi beranak antara 10 sampai 11 ekor bahkan bisa lebih,”  katanya. (Wira Sanjiwani/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.