Warga Lombok ada yang memilih mengungsi ke Banjar Bantas Bale Agung Desa Bantas Selemadeg Timur Tabanan pasca gempa Minggu (5/8). (BP/san)

TABANAN, BALIPOST.com – Meski belum ada perintah untuk mengungsi oleh pemerintah setempat, tetapi karena khawatir akan kondisi Lombok yang masih kerap dilanda gempa, membuat 15 orang warganya memilih hijrah ke Bali tepatnya di Banjar Bantas Bale Agung Desa Bantas Selemadeg Timur. Keputusan memilih mengungsi sementara ke Bali karena salah satu warga Lombok ini berasal dari Bali.

‘’Saya warga sini hanya menikah ke Lombok. Ini rumah orangtua,’’ kata Kadek Yogiani (30). Ia mengajak suami nya, Antik Tri Permana (30) serta kerabat dari suaminya untuk pindah sementara ke Bali sambil menunggu kondisi di Lombok kondusif. ‘’Selama ini tidur di luar. Kasian anak-anak yang masih kecil. Jadi sampai kondisi aman pindah dulu ke Bali untuk sementara,’’ ujar Yogiani.

Total yang diajak mengungsi termasuk dirinya dan suami ada 15 orang. Enam diantaranya masih balita. Rombongan berangkat menyebrang lewat laut pada Sabtu (11/8) jam satu siang dan tiba di Bali pukul 00.00 Wita Minggu (13/8).

Menurut Yogiani meski ia menikah ke Mataram, namun ia dan suami bekerja mengelola  hotel dan villa di Gili Terawangan. Saat gempa terjadi ia dan suami sedang bekerja. ‘’Gempa pertama tanggal 29 Juli masih bertahan. Setelahnya terjadi gempa dalam skala kecil. Namun gempa lebih besar pada lima Agustus lalu yang diinfo akan terjadi Tsunami membuat masyarakat  khawatir. Apalagi gempa susulan masih sering terjadi sehingga was-was kalau tetap ada di sana,’’ tuturnya.

Baca juga:  ITDC Optimistis KEK Mandalika Beri Multiplier Effect Ekonomi Masyarakat NTB

Meski dalam kondisi mengungsi, namun Yogi dan suami tidak berpangku tangan. Mereka menggalang bantuan untuk membantu masyarakat Lombok.

Menurutnya bantuan pertama berupa kebutuhan pokok, susu, pampers dan baju sudah dikirim. Saat ini pihaknya sedang menggalang bantuan ke dua. Dari informasi yang ia dapatkan, saat ini masyarakat di Lombok sangat membutuhkan terpal dan selimut selain kebutuhan pokok. ‘’Mereka kekurangan terpal dan selimut. Semua masyarakat yang dekat dengan titik gempa memilih tidur di luar,’’ tuturnya.

Karena bangunan hotel yang ia kelola rusak akibat gempa, untuk sementara operasional hotel diberhentikan setidaknya sampai tanggal 15 September. Apalagi saat ini Gili Terawangan sedang tidak boleh menerima tamu. ‘’Saat ini ditutup dulu untuk wisatawan sampai kondisi kondunsif. Istirahat dulu sampai setidaknya tanggal 15 September. Ada beberapa renovasi karena bangunan hotel ada yang rusak,’’ tutur Yogi.

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Tabanan, Nyoman Gunawan mengakui mengetahui informasi adanya pengungsi dari Lombok. Menurutnya petugas dari Tagana sudah datang ke lokasi langsung untuk mengecek.  ‘’Dari laporan sementara rencananya warga tersebut ada yang mau pindah ke Jawa. Jadi akan dipantau terus. Jika memerlukan kebutuhan pokok, pasti dibantu dalam bentuk sembako,’’ ujar Gunawan. (wira sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.