Situasi SMPN 2 Tabanan usai kasus pencurian terhadap pelaku yang awalnya mengaku sebagai anggota polisi. (BP/bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Ada saja modus yang digunakan para pelaku kriminalitas dalam melancarkan aksinya. Seperti yang terjadi, Kamis (9/8) di SMPN 2 Tabanan. Seorang pria yang sampai kini belum diketahui identitasnya melarikan enam ponsel siswa dengan modus mengaku dari pihak kepolisian hendak mengadakan sidak mencegah anti teror. Kasus inipun sampai saat ini sedang ditangani pihak kepolisian.

Informasi yang dihimpun, pelaku mengaku anggota polisi datang ke lokasi sekolah sekitar pukul 06.15 wita. Saat kejadian memang suasana sekolah masih sepi karena belum banyak siswa maupun guru dan pegawai yang datang. Pelaku datang ke SMPN 2 Tabanan menggunakan sepeda motor Honda Vario berwarna hitam. Pelaku bahkan sempat menunggu siswa yang datang ke sekolah. Setelah melihat siswa mulai banyak yang datang, pelaku melancarkan aksinya dan masuk ke kelas 8 A. Disana pelaku mengaku seorang polisi dan tengah melakukan sidak antisipasi adanya teror melalui HP. Siswa diharapkan mengumpulkan ponsel mereka.

Satu persatu siswa yang datang diminta mengumpulkan ponsel. Bahkan ada siswa yang tidak percaya terhadap pelaku enggan untuk mengumpulkan. Hingga akhirnya pelaku memilih enam ponsel jenis Samsung dan OPPO dan berhasil dibawa. Pelaku pun menyuruh salah satu siswa untuk mengikuti ke Polres Tabanan. Sesampai di Polres Tabanan di ruangan tunggu pembuatan SIM, pelaku berpura-pura akan membuat surat dan menyuruh siswa untuk menunggu.

Sekian lama menunggu barulah sadar bahwa pelaku sudah kabur dan membawa HP milik siswa. Kepala SMPN 2 Tabanan, I Gede Darmika membenarkan hal itu. Dikatakannya, saat kejadian memang siswa dan guru banyak yang belum datang. Hanya saja memang ada Waker yang sudah disekolah. Pelaku tidak dicurigai lantaran siswa yang diajak berbicara dikira orang tua murid. “Bahkan saat pelaku ini mengajak keluar siswa juga dilihat waker, tetapi tidak ditegur karena dikira orang tua dan anak,” beber Darmika, Jumat (10/8).

Baca juga:  Bahas Pengaduan, Dishub Kumpulkan Sopir Trans Serasi

Hingga akhirnya peristiwa ini baru diketahui setelah salah seorang siswa bernama Yohanes menceritakan kepada guru BK yang selanjutnya melaporkan ke Darmika yang sedang mengikuti Work Shop di SMPN 5 Baturiti. “Saya juga aneh bahwa itu bukan polisi sebab kalau gelar razia pasti menyampaikan dulu ke kami tapi ini tidak,” tegasnya.

Mendapat informasi tersebut, pihaknya memerintahkan Wakasek Gusti Made Sujendra melaporkan ke Polres Tabanan. Dan, sampai saat ini polisi masih meminta keterangan ke sekolah. “Polisi masih berusaha melacak keberadaan pelaku,” jelasnya.

Darmika menambahkan di SMPN 2 Tabanan tidak terdapat CCTV. Saat kejadian berlangsung satpam juga belum datang karena pelaku yang mengaku polisi tugas sebagai Intel ini datangnya pagi sekali. “Akibat kejadian ini kami akan lebih waspada lagi,  setiap tamu yang masuk sekarang akan kami cek melalui KTP yang dibawa,” tegasnya.

Sementara siswa Kelas VIII A, Yohannes Kusuma (14) yang diajak oleh pelaku ke Polres Tabanan mengaku telag ditipu. “Saya tidak mengira kalau pelaku menipu dengan cara berpura-pura menjadi polisi,” imbuhnya.

Dikatakan Yohanes ciri-ciri pelaku yang mengaku sebagai seorang polisi itu memiliki ciri ciri bertubuh gendut, tinggi, berkulit hitam dan mengenakan jaket berwarna hitam dengan kaos baju dalam berwarna putih.

Dikonfirmasi terpisah Kasat Reskrim Polres Tabanan, AKP Decky Hendra Wijaya mengatakan kasus ini masih lidik dan anggota sedang mengumpulkan keterangan. “Masih lidik kami masih kumpulkan keterangan,” tegasnya.

Ia pun menghimbau sekolah  lain agar tidak terjadi kasus serupa,  lebih waspada terhadap orang yang tidak terkenal. “Agar lebih waspada, selalu tanyakan identitas dan surat tugas,” tandas AKP Wijaya. (puspawati/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.