Warga di Banjar Bunga, Desa Ban, Kubu, Karangasem yang terpaksa tidur di kandang sapi akibat rumah mereka hancur diguncang gempa. (BP/nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Gempa yang terjadi di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya meluluhlantakkan bangunan di Lombok saja. Namun juga merusak infrastruktur bangunan di Bali khususnya di Kabupaten Karangasem.

Seperti yang dialami warga di Dusun Bunga, Desa Ban, Kubu I Kadek Sueca. Rumah yang ditempati mereka hancur akibat diguncang gempa. Kini, mereka harus tidur di kandang sapi karena tidak ada lagi rumah yang bisa ditempati.

Warga lain, Mangku Seken juga mengalami hal serupa. Bahkan lebih parah lagi. Rumahnya rata dengan tanah. Kini, keluarga mendirikan tenda terpal seadanya agar bisa tidur di malam harinya.

I Kadek Sueca, Jumat (10/8) menuturkan, guncangan gempa Minggu malam membuat dua bangunan rumah dipekarangannya rusak berat. Atap genteng semuanya berjatuhan, tembok rumah retak dan roboh. Begitu juga dengan sanggah (tempat ibadah pribadi) juga hancur di guncang gempa. “Rumah sama sekali tidak bisa ditempati. Semunya rusak berat,” ucapnya.

Menurut Sueca, karena kedua rumah sama sekali tidak bisa di tempati lagi terpaksa mereka tidur di kandang sapi yang berada di sebelah Setalan rumahnya. Sedangkan ternak yang dimiliki di ikat di samping kandang sapi yang kini menjadi tempat tidur dirinya bersama keluarga.

“Terpaksa tidur di kandang sapi. Mau tidur dimana karena tidak ada lagi rumah yang bisa ditempat. Memang sih karena berbanyak tidurnya terpaksa desak-desakan. Mau gimana lagi kondisinya seperti ini,” tuturnya sembari mengatakan jika dirinya juga memasak di samping tempat tidur.

Sampai detik ini belum ada dinas terkait yang meninjau langusung keadaan dirinya pasca rumah rusak berat akibat gempa tersebut. Atas kondisi ini, pihaknya sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah kabupaten maupun provinsi.

“Bagaimana mau dibantu. Ditengok saja belum pernah dari pemerintah kabupaten. Justru kemarin saya dapat bantuan dari komonitas tril. Kalau bisa untuk sementara ini saya berharap bantuan tenda atau terpal agar bisa tinggal di tempat yang sedikit lebih layak,” harap Sueca.

Baca juga:  Buka IAF, Wapres Harapkan 63 Tahun Persahabatan Ditingkatkan

Warga lain, I Gede Warta mengungkapkan, jika rumah miliknya pasca diguncang gempa rata dengan tanah. Kendati masih ada tersisa satu bangunan, akan tetapi dirinya tidak berani tidur di bangunan karena kerusakannya sangat parah. “Disini saya dua kepala keluarga (KK) dengan jumlah 7 orang. Memang ada satu banguan yang masih berdiri, tapi kondinya bangunan sudah rusak berat. Sehingga tidak berani tidur di dalam,”katanya.

Dia mengatakan, agar bisa tidur pihaknya membangun tenda darurat memakai terpal seadanya. Bahkan tenda yang dibangun tidak berdinding apa-apa. Sehingga ketika malammhati sangat dingin. Sedangkan untuk memasak dilakukan di samping selatan tenda.

Dirinya hanya bisa berharap, supaya pemerintah bisa memperhatikan dirinya dengan cara memberikan bantuan tenda dan yang lainnya. Sehingga bantuan tenda yamg diberikan lebih layak untuk ditempati dari ini. “Saya mewakili keluarga haya berharap pemerintah bisa menyalurkan bantuan kesini,”harapnya.

Sementara itu, Perbekel Desa Ban Wayan Potag menjelaskan, berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan, jumlah kerusakan di Desa Ban sejumlah 256 unit bangunan mulai dari rumah warga, palinggih dan fasilitas umum lainnya.

“Dari jumlah itu sebanyak 27 unit bangunan amburuk atau rusak berat. Dan yang lainnya mengalami kerusakan ringan dan sedang,”paoarnya.

Dia mengatakan, jika pihaknya sudah menyerahkan data-data rumah warga yang rusak akibat gempa twrsebut. Bahkan , dirinya sudah melaporkan ke ajudan bupati untuk menyampaikan kondisi ini kepada bupati Karangasem IGA Mas Sumatri. Namun, sampai sekarang ini belum ada respon apa- apa.

“Sampai detik ini belum ada respon dari pemerintah. Bantuan juga belum ada. Kalau sekarang ini banyak warga yang tidur di tenda tanpa berdinding apa-apa. Bahkan ada warga yang sampai tidur di kandang sapi. Kami harap bagi rumah warga yang rusak berat sampai tidak bisa ditempati lagi supaya bisa sementara ini bisa diberikan bantuan tenda. Sehingga mereka bisa menempati tenda yang lebih layak,”harap Potag. (eka prananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.