Pengembangan padi hitam di Desa Bengkel Kediri. (BP/san)

TABANAN, BALIPOST.com – Selain beras merah, Tabanan sebenarnya memiliki varietas beras hitam. Sayangnya karena penyerapan beras hitam ini belum banyak di pasaran, penanaman padi hitam belum disarankan ke lahan yang luas. Meski demikian Dinas Pertanian Tabanan juga tidak melarang petani untuk menanam padi jenis ini. Terlebih beras hitam memiliki kandungan gizi yang baik terutama bagi penderita diabetes.

Kepala Bidang Pengembangan Produksi dan Hortikultura Dinas Pertanian Tabanan, Wayan Suandra, Rabu (8/8) mengatakan, petani di Tabanan saat ini ada yang mengembangkan padi hitam hanya saja luasannya tidak begitu besar. ‘’Penyerapan pasar masih belum banyak karenanya penanaman padi hitam belum disarankan di lahan yang luas,” ujarnya.

Padi hitam sendiri merupakan padi yang bisa ditanam di berbagai dataran. Tidak hanya di dataran tinggi seperti Penebel, beberapa petani di dataran rendah seperti di Desa Bengkel Kediri juga menanam padi jenis ini. Menurut Suandra meski pasaran masih terbatas, namun diyakini beras hitam memiliki potensi pasar. ‘’Sekarang masih terbatas karena orang-orang masih jarang tahu manfaat beras hitam. Jika sudah tahun manfaatnya terutama bagi penderita diabetes diyakini potensi pasar akan besar seperti beras merah saat ini,’’ jelas Suandra.

Baca juga:  Polisi Amankan Daging Beku Permintaan Warung Makan di Denpasar

Salah satu petani yang menanam padi hitam adalah I Made Merta Suteja dari Desa Bengkel Kediri Tabanan. Ia memaparkan untuk pengembangan padi hitam di Desa Bengkel mencapai 5 hektar, dari total luasan lahan sawah yang mencapai 300 hektar. ”Petani mendapatkan bantuan dari Alokasi Dana Desa (ADD) berupa batuan atau subsidi bibit dan pemupukan . Maksimal satu petani menerima bantuan untuk lahan seluas 10 are,” ujarnya.

Tujuan dari pengembangan beras hitam di Desa Bengkel, selain kandungan beras hitam yang memang baik dikonsumsi untuk kesehatan juga sebagai salah satu program desa untuk meningkatkan kesejahtraan petani dimana  beras hitam harganya jauh lebih mahal dibandingkan beras konvesional yaitu Rp 7500 per kg ditingkat petani.

Meski harga jual yang lebih mahal tetapi diakui Made Merta pengembangan padi hitam di Desa Bengkel ini belum bisa dilakukan penambahan luas tanam. Hal ini dikarenakan pemasaran beras hitam yang belum terlalu banyak terserap pasar. ‘’Masih terkendala di pemasaran. Sudah coba dipasarkan melalui BUMDes bahkan BUMDa, namun serapan pasar untuk beras hitam ini tidak sebaik dari serapan beras pada umumnya,” ujarnya. (wira sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.