Suasana di Pelabuhan Tribhuana, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, Kamis (19/7). Sejumlah penumpang batal menyeberang ke Nusa Penida karena tidak ada fast boat yang beroperasi. (BP/sos)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Keinginan sejumlah warga untuk menyeberang dari Klungkung daratan menuju Kepulauan Nusa Penida, Kamis (19/7) harus pupus. Menyusul penutupan pelabuhan lantaran diperkirakan terjadi gelombang tinggi. Namun demikian, tidak ada rasa keberatan yang diutarakan.

Berdasarkan pantauan di Pelabuhan Tribhuana, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, terlihat sejumlah penumpang di tempat tunggu. Beberapa juga ada yang membawa barang. Sementara itu, loket tiket tutup. Seorang warga yang hendak menyeberang, Ni Nyoman Parti mengaku tidak tahu adanya penutupan aktivitas. “Tiang datang jam enam pagi. Maunya biar bisa paling awal menyeberang. Ternyata tidak ada boat. Katanya tutup,” tuturnya.

Dihadapkan situasi demikian, ia bersama keluarganya hanya bisa berserah, menunggu perkembangan situasi selanjutnya. “Katanya penutupan sampai besok (hari ini-red). Jadinya sekarang menunggu situasi saja. Mudah-mudahan segera buka,” ucapnya.

Menunggu perkembangannya, ia memilih untuk menginap di rumah keluarganya di Desa Kusamba. “Numpang dulu di rumah keluarga. Sambil nunggu perkembangan situasi. Kemarin tiang ada ke Denpasar. Ada upacara,” katanya.

Baca juga:  Karena Ini, Pembangunan di Desa Pejukutan Terhambat

Perempuan asal Desa Batununggul ini mengaku tak mengetahui informasi penutupan. “Tidak tahu,” imbuhnya.

Berbekal keinginan untuk bisa menapaki kampung halaman, beberapa calon penumpang juga memilih beralih ke Pelabuhan Padangbai, Karangasem, mencoba menyeberang dengan kapal roll on roll off (roro).

Penjaga tiket, Made Yustina menyebutkan ada puluhan warga yang batal menyeberang. Soal penutupan pelabuhan sudah disampaikan sebelumnya. “Sudah disampaikan. Tadi pagi juga. Tidak ada yang protes. Sudah dimengerti. Untuk info sementara, penutupan sampai besok (hari ini-red). Tetapi kami tetap menunggu imbauan dari instansi terkait,” jelasnya.

Aktivitas lumpuh juga terjadi pada pengangkutan material bangunan maupun lainnya. Seorang penjaga gudang, Gusti Ketut Wija mengaku nahkoda tidak berani menentang prakiraan gelombang tinggi yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). “Keamanan yang diutamakan,” ucapnya.

Saat gelombang normal, pengiriman barang dalam sehari menggunakan tiga sampan, dengan masing-masing muatan puluhan ton. “Peengiriman biasanya sudah mulai dari pagi,” imbuhnya. (sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.