dr. I Gede Ketut Sajinadiyasa, Sp.PD. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Belakangan cuaca di Bali agak dingin. Saking dinginnya hingga membuat air pun menjadi dingin. Selain itu angin kencang juga terjadi, membuat udara yang sudah dingin tambah dingin.

Cuaca dingin seperti ini rentan membuat penderita asma kumat. Oleh karena itu perlu menjaga badan agar tetap hangat.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Divisi Pulmonologi RSUP Sanglah dr. I Gede Ketut Sajinadiyasa, Sp.PD. mengatakan, dampak cuaca dingin bagi kesehatan, tergantung daya tahan seseorang, sensitif atau tidak. Akibat cuaca yang dingin biasanya membuat saluran pernafasan kering, faringitis, sakit radang hidung, radang tenggorokan, infeksi saluran nafas atas.

Selain itu, penyakit saluran nafas yang sering berhubungan dengan dingin yaitu asma. “Tapi itu kalau dia alergi terhadap dingin. Kalau tidak, mungkin asmanya tidak akan kumat,” ujarnya Senin (16/7).

Baca juga:  Sejak 2015, Ratusan Orang di Jembrana Meninggal Karena HIV/AIDS

Cuaca dingin yang ekstrem bisa saja membuat pecahnya pembuluh darah di hidung. Namun dengan kondisi suhu udara saat ini yang masih normal, dinilai tidak menimbulkan keluhan itu.

Denpasar yang terbiasa dengan cuaca panas, akan berdampak. Namun tidak signifikan tergantung daya tahan tubuh seseorang. Menurutnya, suhu udara saat ini masih normal 26 derajat celcius untuk saluran pernafasan. Artinya tidak menimbulkan keluhan pernafasan yang signifikan.

Jika suhu udara mencapai 20 derajat ke bawah, maka seseorang harus menghangatkan tubuhnya. Misalnya dengan menggunakan jaket tebal, syal, dan masker.

Meski demikian, ia tidak menemukan lonjakan kasus penyakit pada saluran pernafasan. Mengingat RSUP Sanglah merupakan rumah sakit tipe A yang merawat pasien level 3. Sehingga pasien yang datang adalah pasien dengan penyakit berat. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.