Penampilan penabuh gender wayang duta Kota Denpasar dalam memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) XL di Taman Budaya, Denpasar, Senin (16/7) . (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sanggar Genta Mas Cita berkesempatan untuk menampilkan gender wayang style Kayumas Kaja di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-40. Ada 8 gending petegak style Kayumas Kaja dan 2 tari dengan iringan gender wayang yang dibawakan langsung oleh 3 generasi di sanggar ini.

Diantaranya, tabuh puspa warna, tabuh srikandi, tabuh cangak merengang, tabuh selendro, tabuh bima kroda, tabuh sekar gendot, tabuh wira jaya, dan tabuh kreasi baru genta anyar, serta tari kebyar duduk dan tari kreasi sekar ayu.

“Gender wayang biasanya jarang ditampilkan untuk event seperti ini, bahkan ini merupakan suatu inovasi juga untuk mengiringi tari,” ujar Ketua Sanggar Genta Mas Cita, I Wayan Sujana disela-sela pentas di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Senin (16/7).

Menurut Sujana, style Kayumas Kaja belakangan populer di Kota Denpasar maupun daerah lain lantaran sering diperlombakan. Khususnya pada ajang Pekan Seni Remaja (PSR). Secara kebetulan, sanggar yang dibentuknya tahun 2008 lalu memang untuk meneruskan misi perjalanan dari salah seorang seniman multitalenta karawitan, I Wayan Konolan (alm). Terutama dalam melestarikan dan mengembangkan gending-gending gender wayang style Kayumas Kaja di kalangan masyarakat luas.

Baca juga:  Tari Gandrung Ketapian Kelod, Berawal dari Adanya Gerubug

“Gender wayang sudah lama sekali, kami punya orangtua yang serba bisa. Mereka yang mengembangkan gending-gending gender wayang sejak tahun 60an di kota Denpasar. Dimodifikasi lagi, sehingga mempunyai ciri khas Kayumas Kaja yang kini berkembang di masyarakat Kota Denpasar,” paparnya.

Sujana mengaku terus berinovasi. Seperti dalam pentas kemarin, satu barungan yang umumnya terdiri dari 4 tungguh gender ditambah menjadi 12 sehingga tercipta satu barungan yang lebih besar. Beberapa instrumen juga ditambahkan seperti kendang, kajar, cengceng ricik, suling, kemong, gong, dan kempur. Tambahan instrumen ini untuk memberikan suatu nafas baru sehingga gender wayang tidak hanya tertutup untuk upacara manusa atau dewa yadnya. Tapi juga berpeluang menjadi seni pertunjukan yang bisa dipertontonkan.

“Pementasan ini menampilkan 3 generasi dari bapak, anak, dan cucu. Jumlahnya kurang lebih 30 penari dan penabuh. Sanggar kami sudah sering mengikuti lomba-lomba, mengisi acara lomba tari, dan mengiringi dharma gita yang diadakan di Kota Denpasar,” tandasnya. (rindra/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.