KPP Kurma Asih Perancak bersama warga menguburkan bangkai penyu yang ditemukan di pantai Perancak tepatnya di dusun Dangin Berawah, Sabtu lalu. (BP/olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Warga di Banjar Dangin Berawah, Desa Perancak, Sabtu (14/7) siang kembali menemukan bangkai penyu yang terdampar di pantai tersebut. Saat ditemukan kondisinya sudah hancur hanya tersisa cangkang. Ini merupakan yang kesekiankalinya warga menemukan penyu dewasa mati terdampar di pesisir pantai Jembrana.

Mendapati bangkai Penyu jenis Lekang itu, warga lantas menghubungi salah satu anggota Kelompok Pelestari Penyu (KPP) Kurma Asih di Perancak. Setelah diperiksa dan dicek, bangkai penyu yang diperkirakan sudah berumur puluhan tahun itu oleh KPP bersama warga dikubur. “Ini merupakan yang kesekiankalinya penemuan penyu mati di Perancak. Beberapa bulan lalu disini juga ditemukan bangkai penyu,” terang Koordinator KPP Kurma Asih, I Wayan Anom Astika Jaya.

Tepatnya pertengahan Mei lalu, warga menemukan bangkai penyu di lokasi yang sama. Lantaran kondisi bangkai penyu yang sudah hancur pihaknya tidak bisa mengecek lebih jauh. Penyu Lekang yang terdampar Sabtu lalu memiliki panjang 61 cm dan lebar 60 cm.

Baca juga:  Kembali, Ditemukan Penyu Lekang Mati di Pesisir Jembrana

Anom juga sering mendapatkan informasi dari masyarakat penyu yang terdampar di sepanjang pantai Jembrana. Beberapa pekan lalu, di Pantai Yehembang (Rambut Siwi) juga ditemukan bangkai penyu serupa dan oleh warga langsung dikubur. Pihaknya juga belum mengetahui persis apa penyebab penyu-penyu tersebut belakangan banyak mati hingga terdampar di pantai Selatan.

Selama setengah tahun ini sudah ada belasan penyu dewasa yang ditemukan mati terdampar di sepanjang pantai Jembrana. Penyu Lekang merupakan salah satu spesies penyu yang hidup di perairan Jembrana. Bahkan di sepanjang pantai Kabupaten Jembrana merupakan habitat alami penyu untuk bertelur. Sudah menjadi siklus tahunan penyu-penyu betina yang siap bertelur naik ke pantai untuk mencari sarang (nest). Ada beberapa penyebab penyu mati di habitatnya.

Selain karena sengaja ditangkap (diburu) atau tidak sengaja terjerat jaring nelayan. Namun bisa juga diakibatkan karena kondisi perairan yang tak memungkinkan. (surya dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.