Penampilan seni tari topeng tua duta Kota Denpasar dalam parade topeng panca klasik saat Pesta Kesenian Bali (PKB) XL di Taman Budaya, Denpasar, Selasa (10/7). (foto/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Parade Topeng Panca Klasik merupakan salah satu materi pokok Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-40. Kabupaten/kota di Bali mengirim duta masing-masing untuk tampil di event tahunan ini. Seperti Kota Denpasar lewat Sekaa Topeng Gurnita Kanti, Kelurahan Pemecutan, yang pentas di Kalangan Ratna Kanda Taman Budaya Bali, Selasa (10/7).

Sekaa ini membawakan cerita “Pura Bangun Sakti”. Secara umum mengisahkan tentang perjalanan sebelum berdirinya Pura Kentel Gumi dan Pura Bangun Sakti. Dimulai dari wabah penyakit pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Puri Gelgel. Penyakit itu disebabkan Yadnya Pakelem di Sungai Unda yang digelar Ida Brahmana Anom Penida. Karena malu, Ida Brahmana Anom Penida lantas pindah dan menetap di Desa Urusana, Biaung-Padanggalak. Singkat cerita, putra pertama beliau yakni Brahmana Wayan Bendesa lantas bertemu Ida Kiai Anglurah Pinatih, yang kemudian bersama-sama membangun parahyangan.

“Keunikan Topeng Panca, penarinya ada lima orang. Kemudian bagaimana cara kita menyusun lima penari ini, dari adegannya, percakapannya agar lima topeng ini sempat bertemu. Itu yang agak susah,” ujar Koordinator Sekaa, I Komang Juni Antara.

Baca juga:  Wayang Wong SMKN 4 Bangli, Sampaikan Pesan Netralisir Api Kemarahan

Juni Antara mengatakan, topeng panca klasik sangat perlu untuk dilestarikan. Terlebih, sekaa atau sanggar topeng panca kini mulai susah dicari akibat perkembangan jaman. Di Kelurahan Pemecutan, sebetulnya memiliki style sendiri untuk topeng panca. Namun kini sudah mulai hilang. Selain karena perubahan jaman, juga akibat pengaruh dari kabupaten lain.

“Kalau bisa setiap ada parade Topeng Panca, dari grup topeng panca manapun, mari kita bangkitkan lagi, kita gali lagi topeng panca klasiknya kita untuk dipertontonkan disini (PKB,red),” jelasnya.

Sekaa Topeng Gurnita Kanti, lanjut Juni, merupakan sekaa gong kelurahan yang mempertemukan seluruh seniman di Pemecutan. Ini sesuai dengan tujuan awal dibentuknya Sekaa, yakni menjalin kerjasama diantara semua seniman yang ada di Kelurahan tersebut. Mengingat sebelumnya, seniman dari Banjar berbeda dibawah kelurahan Pemecutan belum tentu saling mengenal satu sama lain. Tak hanya tari dan tabuh, Sekaa yang pernah pentas di Pura Candi Narmada ini juga menekuni seni lukis dan pedalangan.

“Khusus topeng panca baru pertama kali pentas di PKB. Ada 36 penabuh dan 5 penari yang dilibatkan,” tandasnya. (rindra/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.