Salah satu kegiatan Desa Munduk Temu mengajak masyarakat menyukseskan program Nikosake adalah dengan kegiatan Lisa (Lihat Sampah Ambil) yang melibatkan anak-anak setiap hari libur. (BP/ist)

Selain berlimpah dengan sumber daya alam, Indonesia juga kerap dilanda bencana. Baik bencana alam, maupun bencana yang diakibatkan oleh kecerobohan manusia. Dalam hal bencana alam, mungkin ini berkorelasi langsung dengan sumber daya alam Indonesia. Banyaknya gunung berapi membuat lahan Indonesia subur, demikian juga banyak ada pertambangan batu mulia. Akan tetapi, gunung itu juga kerap meletus sehingga menimbulkan kesengsaraan bagi masyarakat.

Dalam hal bencana akibat kecerobohan, ini disebabkan oleh kurang disiplinnya orang Indonesia, dalam bidang apa saja. Beberapa waktu yang lalu, ratusan orang hilang dan diduga tewas akibat tenggelamnya sebuah kapal di Danau Toba.

Salah satu penyelidikan menyebutkan  bahwa mulai desain sampai muatan kapal itu tidak sesuai aturan. Di Pulau Selayar, Sulawesi bagian selatan juga ada kapal karam. Penyebabnya adalah lambung bocor. Sebanyak 26 orang tewas. Kita benar-benar tidak disiplin dalam hal ini.

Pulau Bali pun boleh dikatakan rawan bencana. Beberapa waktu lalu sebuah penelitian di wilayah pesisir Denpasar, menemukan jejak  tsunami besar di Pulau Bali. Sejarah juga mencatat ada tsunami di Singaraja. Jika kita menumpang pesawat terbang, akan terlibat bagaimana Gunung Batur purba itu demikian besar dan meledak dengan dahsyat ribuan tahun lalu, juga kalau kita lihat di Bedugul Tabanan.

Tiga danau itu, yaitu Beratan, Buyan, dan Tamblingan terletak pada bibir kaldera yang membentuk pola lingkaran. Kaldera ini adalah bekas gunung purba raksasa pada masa lalu, lebih besar dari kaldera Gunung Batur, yang mempunyai tiga kepundan kemudian digenangi air. Itulah yang menjadi Danau Beratan, Tamblingan, dan Buyan.

Tiga danau ini beriringan, bersisian, dan terpola di pinggiran dinding bekas gunung besar. Tidak ada penelitian mendalam tentang hal ini, padahal sewaktu-waktu bisa saja menimbulkan bencana dahsyat. Jadi, bukan sekadar Gunung Agung yang berbahaya. Belum lagi kalau kita prediksi soal angin puyuh, banj,ir dan tanah longsor. Siapa tahu peristiwa seperti Gunung Kelud di Jawa Timur, muncul di Bali. Tiba-tiba saja dari dasar danau Beratan, atau Tamblingan atau Buyan muncul rekahan gunung baru yang menguras seluruh air yang ada.

Baca juga:  Sambangi Klungkung, PBNU Apresiasi Program TOSS

Karena itu, bukan saja di Bali, sebaiknya kita benar-benar mempersipkan diri untuk menghadapi bencana ini. Katakanlah Gunung Sinabung di Sumatera, atau Gunung Agung di Bali, tidak ada yang memprediksi letusannya seperti ini sekarang. Akhirnya ketika benar-benar terjadi bencana sering kita kalang kabut, dan akhirnya mengembalikan ke takdir. Inilah yang harus kita perhatikan dari sekarang.

Beberapa waktu lalu, ada pendapat yang menyebutkan bahwa pengendalian bencana atau upaya penyelamatan diri saat bencana, harus dilatih sejak sekolah dasar. Pemikiran ini penting karena dengan cara demikian akan mendapat dua hal. Yang pertama adalah pemahaman terhadap kondisi lingkungan langsung dari anak-anak.

Ini akan memberikan penyadaran bahwa mereka hidup di daerah yang rawan bencana sehingga secara tidak langsung dapat menyesuaikan diri dan awas terhadap lingkungannya. Kedua adalah sosialisasi. Ini penting karena sosialisasi terhadap penanganan bencana itu paling bagus saat anak-anak. Perkembangan dan pertumbuhannya akan memungkinkan akan-anak untuk menyesuaikan diri.

Pemikiran lain, juga ada yang menginginkan memasukkan kebencanaan ini pada kurikulum. Ini pun perlu dipertimbangkan. Tujuannya agar kita mampu menganalisis dan mengetahui cara mengatasi berdasarkan kultur yang ada. Mengatasi bencana dengan kultur sosial yang ada, sangat bagus untuk meminimalkan korban. Mudah-mudahan kita mampu memikirkan ini ke depan.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.