SEMARAPURA, BALIPOST.com – Kebutuhan pakaian tak pernah habis. Setiap orang selalu membutuhkannya. Bahkan, tak jarang yang memilih-milih demi sebuah penampilan yang menarik dipandang.

Di Bali, pakaian produksi luar negeri sudah menggempur. Masuk ke mal atau outlet-outlet khusus. Banyak yang bermerk dan kualitasnya bagus.

Kondisi ini juga merambah ke Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Sebuah kepulauan yang pariwisatanya cukup berkembang.

Realitas itu memantik perhatian pemuda asal Desa Kamasan, Klungkung, I Made Budi Wiryadi Adnyana. Ia yang akrab disapa Alit Madves ini bertekad menyaingi produk-produk itu dengan produk lokal.

Usaha clothing pun dibuka di kepulauan yang berjuluk “the blue paradise island” itu. “Saya melihat produk luar banyak masuk. Jadi berpikir kenapa tidak buat produk lokal. Perkenalkan kepada masyarakat,” ucapnya, Sabtu (7/7).

Usahanya itu dirintis pada 2011. Benar-benar mulai dari nol. Ketika itu ia juga masih menjadi karyawan di Pegadaian. Membagi waktu menjadi sebuah tantangan. Namun itu tak membuatnya lesu darah.

Berkat keuletan dan keinginannya bisa bersaing di tengah pasar yang semakin berkembang, perlahan jerih payahnya membuahkan hasil. Produk yang dijualnya pada distro yang tak terlalu besar itu digandrungi masyarakat, terutama anak-anak muda. “Awalnya cukup berat membuat usaha ini. Karena harus bekerja juga di tempat lain. Itu juga masih sampai sekarang,” tuturnya.

Baca juga:   Impor Jagung Diminta Dikaji Lagi

Pemuda 26 tahun ini juga mengakui produk lokal tak langsung laku di pasaran. Kualitasnya masih dianggap kalah dengan impor. Tetapi dia punya strategi sendiri melawan itu.

Promosi terus digencarkan melalui sejumlah event. “Dari sisi kualitas, produk lokal tidak kalah saing. Bahkan bisa lebih bagus dari luar. Ini yang terus saya yakinkan ke konsumen,” jelasnya.

Langkahnya untuk bergelut di dunia entrepreneur tak lain juga karena ketatnya persaingan kerja. Peluang untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diiidamkan banyak orang semakin kecil.

Ini juga untuk memotivasi anak muda lainnya. “Kita harus bisa berusaha. Tidak hanya berpikir menjadi pegawai negeri saja. Untuk usaha saya ini, Astungkara sudah bisa mempekerjaan tiga anak muda untuk jaga. Kalau produksi langsung di Denpasar,” katanya.

Menggenjot potensi anak-anak muda, perhatian pemerintah juga sangat diharapkan. Program pelatihan berkenaan dengan kewirausahaan sangat perlu digulirkan secara intensif. “Pelatihan-pelatihan sangat penting untuk diberikan,” imbuhnya pemuda yang distronya sudah pindah ke Jalan Rama, Semarapura ini. (Sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.