Ilustrasi. (BP/dok)

Pintu karier politik ternyata tidak benar-benar tertutup bagi mereka yang kalah dalam Pilkada lalu. Kalaupun di eksekutif kalah, siap-siaplah merambah jalur legislatif.

Kalau di jalur ini juga keok, jangan khawatir masih banyak peluang. Partai politik akan membuka tangannya lebar-lebar untuk merangkul Anda. Setidaknya karena Anda memang punya power dalam arti luas. Bisa pengaruh, jaringan, dan tentu saja uang. Tidak sulit untuk beralih secara cepat.

Ini memang mutualisme. Sama-sama berkepentingan. Muaranya sangat jelas, tentu kekuasaan. Partai politik tanpa kekuasaan, tentu saja bukan sebuah partai politik. Apalagi saat ini semakin kentara kecenderungan bahwa sebuah partai politik dikelola dengan manajemen modern. Tak ubahnya seperti perusahaan. Jadi, klop sudah. Pertemuan dua kepentingan yang saling mendukung.

Tidak ada alasan legal formal yang melarang seseorang secara cepat beralih sasaran politik. Dan malah izin semacam itu dianjurkan sebab mesin kandidat yang kalah masih panas dan tidak ada salahnya kalau tidak dimanfaatkan. Sudah banyak contoh.

Tidak hanya dalam bidang politik, lembaga komisioner pun kita kihat pola-pola perilaku semacam ini.

Setidaknya ada KPU, KPI, serta KI. Ada kecenderungan mereka mencoba peruntungan di semua lembaga ini. Kalau di salah satu komisioner tidak diterima atau gagal, coba yang lainnya.

Baca juga:  Akhir Tahun, DPRD Bangli Bahas Lima Ranperda

Atau di komisi ini masa jabatan sudah habis maka beralih sasaran ke lembaga atau komisi yang lain.

Sekali lagi tidak ada yang melarang. Tetapi ingat ada sebuah penilaian sosial yang berkembang di masyarakat bahwa perilaku seperti ini dianggap hanyalah mencari “pekerjaan” bukan semata-mata ingin mengabdikan diri di jalur politik. Anggapan seperti ini juga tidak salah karena banyak contoh yang menguatkan hal ini.

Di negara lain juga jamak seperti ini. Cuma di beberapa negara maju, juga ada kecenderungan bahwa calon yang kalah akan beralih ke bidang yang lain dengan memberikan kesempatan kepada kader lain. Dia biasanya memilih di lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang hak asasi manusia, lingkungan atau pun total mengabdikan dirinya di lembaga sosial.

Banyak pilihan dan pilihan banting setir dari eksekutif ke legislatif juga mesti dihargai. Karena mereka juga masih punya potensi. Cuma kalau niat itu nyata-nyata untuk kekuasaan atau untuk tetap eksis di peta politik tentu patut pula dipertanyakan.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.