Para penari dari Sanggar Semara Wijaya bersiap untuk pentas di PKB ke-40, Minggu (24/6). (BP/rin)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sanggar Seni Semara Wijaya dipercaya untuk tampil pada ajang Pesta Kesenian Bali Ke-40. Yakni membawakan tari dan tabuh kreasi di Kalangan Ayodya, Art Center Denpasar, Minggu (24/6) sore.

Sanggar ini sebetulnya baru terbentuk setahun lalu, namun telah dibanjiri anggota hingga 200an lebih. Kedepan juga ingin menggarap kembali tari rejang renteng khas Desa Angantelu (Antiga) di Karangasem yang menjadi markas sanggar tersebut. Tepatnya di Br. Bengkel, Desa Antiga Kelod, Kecamatan Manggis, Karangasem.

Ketua Sanggar, I Gede Bawa Setiawan mengatakan, antusiasme masyarakat Angantelu untuk menekuni seni tari dan tabuh sebetulnya sangat tinggi. Namun, belum banyak didukung tempat dan fasilitas untuk berkesenian. Inilah yang melandasi terbentuknya sanggar pada tahun 2017 lalu.

“Antusiasme anak-anak terutama sangat luar biasa, kemudian orang tua mereka juga sangat mendukung kami di sanggar. Tanpa ada mereka, kami tidak ada apa-apanya. Beranjak dari sana, bisalah kita nanti bersama-sama dalam mengajegkan budaya,” ujarnya.

Menurut Bawa, sanggar hampir setiap hari berkegiatan seni. Tidak hanya sekedar melatih tari dan tabuh, tapi juga pesantian. Termasuk upaya untuk menggali apa yang menjadi kearifan lokal setempat. Salah satunya, menggarap kembali tari rejang renteng khas Angantelu melalui kekhasannya yang membedakan dengan daerah lain.

Baca juga:  Jadwal PKB, Rabu 18 Juli

“Itu sebenarnya sudah sering kami pentaskan (ngayah di Pura Desa dan Sad Kahyangan, red), cuma memang masih pentas tradisi karena gerakannya belum diatur sedemikian rupa. Memang untuk menggali lumayan sulit, seperti menyeragamkan gerak dan lainnya” imbuhnya.

Bawa menambahkan, tari rejang renteng khas Angantelu memiliki keunikan tersendiri. Pada pinggang penari digantungkan gumpang atau sekam. Dalam lontar pangeling-eling desa disebutkan, dulu saat tari itu dipentaskan, penari paling belakang hilang. Konon, dimangsa oleh perwujudan macan hitam.

“Makanya memakai itu (sekam) untuk tanda jejak dikala penari itu hilang. Keunikan lain, di dalam rejang renteng itu membawa semacam benang tukelan, kemudian didepannya isi pis bolong satakan, dibelakangnya isi buah pisang. Itu merentetan, sehingga disebut rejang renteng,” tandasnya.

Di ajang PKB Ke-40, sanggar ini antara lain membawakan tabuh kreasi semara pegulingan “Pandan Harum”, tari Dharma Putri, tari topeng keras Gajah Mada, tabuh kreasi semar pegulingan Surya Kumara, tari kreasi baru Kembang Menuh, dan tari jauk Durga Manis. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.