Petani membiarkan buah toman miliknya di pohonya tidak dipetik lantaran harganya anjlok. (BP/nan)

BANGLI, BALIPOST.com – Harga buah tomat sejak beberapa hari belakangan ini anjlok. Atas kondisi itu, membuat sejumlah petani tomat di Kintamani lebih memilih menelantarkan buah tomat yang sudah layak panen di pohonnya ketimbang di petik untuk dijual. Selain harga tomat, harga bawang merah juga menurun.

Petani tomat dan bawang di Banjar Dalem, Desa Songan, Kintamani, Bangli, Ni Luh  Artini, Selasa (19/6), mengatakan, harga tomat mulai jeblok sekitar dua pekan terakhir.

Kata dia, sebelumnya harga tomat kisaran Rp 2.500 sampai Rp 3.000 per kg-nya. Namun kini, harga tomat jeblok kisaran Rp 500 rupiah sampai Rp 1.000 rupiah. Atas anjolknya harga tomat, membuat sejumlah petani yang memiliki tanaman tomat membiarkan buah tomat mereka dipohonnya yang sudah layak dipanen. Bahkan buah tomat yang sudah merah, sampai membusuk di pohonnya lantaran tidak dipetik.

“Banyak petani yang memilih membiarkan tomat yang sudah layak panen di pohonnya tidak dipetik lantaran hanya jeblok. Karena ongkos petik dengan harga jual tidak sesuai. Kalau untuk tanaman tomat milik saya tinggal panan lagi dua kali. Biarpun harganya anjlok tapi tetap saya petik untuk di jual, ketimbang dibiarkan membusuk di pohonya kan kasihan. Meski hasil penjualan sedikit, yang penting ada pemasukan,” tegasnya.

Baca juga:  15 Kelompok Tani di Bangli Kembangkan Tanaman Tembakau

Selain harga tomat yang jeblok, kata Artini harga bawang sejak beberapa hari lalu juga menurun dari sebelumnya. Kata dia, pada saat menjelang hari raya Galungan dan Kuningan harga bawang tembus harga Rp 20 ribu per kg-nya. Dan untuk saat ini harga bawang turun menjadi Rp 15 per kg-nya.

“Kalau Galungan kebutuhan bawang meningkat. Sehingga harga pun ikut melonjak. Tapi karena sekarang ini sudah tidak ada hari raya, makanya harga bawang turun,”ujarnya.

Selain karena tidak ada upacara, jelas Artini hari raya Idul Fitri juga dinilai sangat mempengaruhi harga bawang. Pasalnya, sebagian besar warga islam yang tinggal di Bali semuanya mudik atau pulang ke kampung halaman mereka masing-masing. Kondisi itu, jelas membuat daya beli bawang juga ikut menurun untuk kebutuhan dapur.

“Idul Fitri juga sangat berpengaruh terhadap turunnya harga bawang. Karena ribuan warga islam meninggalkan Bali. Mengingat, sebagian besar warga islam yang tinggal di Bali membuka usaha makan yang kesehariannya memakai bumbu dapur salah satnya bawang merah. Jika mudik, jelas mereka tidak membeli bawang untuk bisnisnya,”katanya Artini. (eka prananda/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.