BULELENG, BALIPOST.com – Akulturasi seni, budaya dan kehidupan sosial Hindu Bali dengan Islam di Buleleng muncul sejak zaman Kerajaan Buleleng ratusan tahun yang lampau. Ini terbukti, adanya satu desa yang didominasi penduduk muslim.

Wilayah itu adalah Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada. Sejak ditetapkan, kehidupan sosial kemasyarakatan antara Hindu dengan Islam “terpatri” lewat konsep “Menyamabraya” (Kekeluargaan). Warga yang beragama Muslim dan krama Bali serta warga di desa tetangga hidup rukun sampai sekarang.

Dari tetua dan tokoh masyarakat Desa Pegayaman, disebutkan pada masa Raja Buleleng Ki Anglurah Pandji Sakti, para kstaria kerajaan diberikan izin menguasai wilayah Pegayaman yang dahulu merupakan hutan belantara dengan tanaman gatep. Kala itu, mereka ini datang dari Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Blambangan, Jawa Timur (Jatim) merupakan remaja dan orang dewasa yang belum menikah.

Setelah lama menjadi abdi dalem kerajaan, para ksatria itu kebanyaan menikah dengan memersunting perempuan dari Buleleng dan daerah sekitarnya. Dari sejarah itu, keberadaan warga muslim Pegayaman merupakan penduduk muslim asli yang berkembang sejak zaman lampau sampai sekarang dan bukan pendatang luar Bali yang mengembangkan wilayah.

Bukan saja perkembangan kependudukannya, namun sejak itu sudah terbina konsep akulturasi seni, budaya dan kehidupan sosial kemasyarakatan antara Islam dengan Hindu Bali. Konsep yang sangat melekat dan mencerminkan akluturasi yang tetap lestari sekarang ini adalah pemberian nama warga yang sekarang masuk generasi ketujuh ini mengikuti konsep nama-nama warga Bali seperti nyoman, made, nengah, dan ketut.

Tidak hanya itu, warga Muslim Pegayaman dalam berinteraksi tidak ada yang menggunakan bahasa Jawa seperti muslim di daerah lain. Justru, mereka menggunakan bahasa Bali dengan logat khas yang tidak dapat dijumpai di daerah lain sekalipun.

Salah satu tokoh masyarakat Desa Pegayaman Drs. Mohammad Suharto ketika ditemui di kediamannya Sabtu (9/6) mengatakan, warisan akulturasi budaya Muslim dan Hindu di daerahnya tetap lestasri sebagai sebuah warisan bersejarah para pendahulu. Selain itu, warisan yang dikenal dengan konsep “Menyamabraya” itu tetap dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari setiap warga Pegayaman.

Baca juga:  Ini, Kronologi Kecelakaan Maut di Gilimanuk yang Tewaskan 8 Orang

Dia mencontohkan, penerapan konsep ini ketika akan digelar perayaan hari besar agama, baik Islam dan Hindu. Dalam hari besar, warga Pegayaman tidak canggung untuk menjaga tali silaturahmi dengan warga Hindu dengan saling memberi atau dalam kehidupan sosial dan ekonomi. “Konsep menyamabraya ini tetap kami jaga dan dipraktekan dalam kehidupan baik secara sosial maupun ekonomi. Saat warga Islam menggelar hari raya, warga Bali bersilaturahmi dengan warga kami. Sebaliknya, ketika ada hari raya Hindu, kami tetap menjaga toleransi. Sampai sekarang kami hidup rukun baik dengan warga Bali di Pegayaman maupun desa-desa tetangga,” katanya.

Tidak saja dalam bertoleranasi, Suharto menyebut dalam hal kesenian atau budaya di Pegayaman juga terjalin akulturasi yang sangat baik. Hal ini seperti membangkitkan kesenian Burdah Pegayaman.

Sekilas atraksi seni ini kental dalam kehidupan Islam di negara ini. Namun dari perjalanan sejarah Kerajaan Buleleng, kesenian ini pun dikawinkan dengan kesenian Bali.

Dengan perpaduan itu, seni Budrah menampilkan sebuah kesenian unik di mana kesenian ini menyuarakan ayat-ayat suci Islam dan penampilan pemainnya menggunakan tradisi Bali. Itu bisa dilihat dari pakaian pemain Budrah mengenakan destar (udeng) hingga menggunakan kain lengkap dengan lancingan yang merupakan budaya Bali.

Selain kesenian, masih ada akulutasi budaya lain yang tumbuh subur di Pegayaman. Ini terlihat ketika perayaan hari besar Islam, prosesinya juga diwarnai dengan budaya Bali.

Ini bisa dijumpai ketika perayaan Lebaran atau Maulid Nabi SAW, warga Pegayaman melaksanakan tradisi ngejot (memberi makanan) baik ke warga Islam maupun warga Bali. Keunikan lainnya adalah ketika hari besar Islam, penduduk Pegayaman terbiasa membuat kue yang sudah umum dibuat oleh warga Bali ketika hari besar keagamaan tiba. “Akulturasi budaya dari kehidupan sosial kemasyarakat, seni, budaya, serta kebiasaan dalam mempersiapkan sebuah hari besar keagamaan, kami sadar untuk tetap menjaga dan melestarikan. Ini tidak lepas dari apa yang sudah diwariskan oleh pendahulu kami yang tidak bisa dipisahkan dari budaya Bali dari zaman Kerajaan Buleleng di masa lampau,” tegasnya. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.