Truna adat saat mundut pralingga Ida Batara, di kawal tombak (cendek) di depan. (BP/gik)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Desa Adat Bungaya, Kecamatan Bebandem, kembali menggelar Usaba Sumbu. Pelaksanaannya telah dimulai pada Selasa (5/6) sore, diawali ngias pralingga Ida Batara, hingga nedunang Ida Batara ke Pura Pesuikan.

Tidak seperti desa lainnya, prosesi ritual di desa tua ini semua dilakukan saat malam hari. Bahkan, prosesi mesucian pun dilakukan tengah malam.

Ribuan warga Desa Bungaya, tumpah ke jalan saat malam itu. Seluruh akses jalan menuju Pura Bale Agung, Pura Puseh dan Pura Pesuikan, ditutup pecalang untuk kendaraan. Terlebih, saat ritual ngelisin sudah berlangsung ke seluruh wilayah Desa Bungaya. Warga setempat pun mulai mempersiapkan diri menuju Pura Pesuikan.

Ritual ngelisin, menandakan pralingga Ida Batara di Pura Puseh, siap memargi ke Pura Pesuikan. Para truna adat pun sigap melaksanakan tugasnya mapengayah, ngiring pralingga Ida Batara ke Pura Pesuikan. Total ada 10 pralingga Ida Batara disana.

Dikawal cendek (seperti tombak bertiang cukup panjang), kapundut truna adat paling depan. Suasana magis sangat terasa kala pralingga Ida Batara memargi.

Di sana, 10 pralingga Ida Batara dari Pura Puseh, bergabung dengan 10 pralingga lainnya yang sudah berada di Pura Pesuikan. “Tinggal satu lagi pralingga Ida Batara Delod Pasar, juga tedun saking Pura Pajenengan Dadia Pasek Kaler Kangin. Total, ada 21 pralingga nanti di Pura Pesuikan,” kata I Gede Krisna Adi Widana, Klian Pura Pajenengan Dadia Pasek Kaler Kangin.

Setelah seluruh pralingga tedun ngadeg di Pura Pesuikan, barulah pralingga Ida Batara masucian ke Pura Beji Saga. Tetapi, sebelum itu, seluruh pralingga kapundut menuju Pura Batu Sanghyang.

Menurut Krisna, rangkaian ritual ini mengandung makna, bahwa saat pelaksanaan Usaba Sumbu, Ida Batara berkumpul di Pura Pesuikan. Di Pura Pesuikan inilah, dulu pertama kali menjadi lokasi merencanakan berbagai karya-karya yang lain di desa. Sehingga, pada saat itu, diajaklah krama ke beberapa tempat. Salah satunya, pertama ke Pura Batu Sang Hyang.

Perjalanan ke pura ini mengandung makna untuk mengasah segala bentuk pikiran. Setelah pikiran itu terasah, maka seterusnya harus mebersih. Sehingga, dilanjutkan dengan masucian di Pura Beji Saga.

Pelaksanaan saat malam hari, sudah berlangsung sejak dulu secara turun temurun. Ini sangat berbeda dengan ritual mesucian di desa lain yang biasanya dilakukan pagi hari ke Segara.

Baca juga:  Kopi Lokal Harus Kuasai Dunia

Krisna menegaskan, prosesi nedunang Ida Batara sampai mesucian, hanya berlangsung sehari. Sehingga seperti apapun cepatnya mengatur ritual, mesuciannya tetap saja akan berlangsung tengah malam.

Setelah pikiran krama bersih, tiga hari kemudian baru dilakukan pemujaan kepada Dewi Sri di Pura Ulun Suwi, sebelum kembali ke Pura Bale Agung. Di Pura Bale Agung inilah nanti menjadi lokasi puncak pelaksanaan Usaba Sumbu. Selama prosesi ini, warga lainnya juga ngaturang banten sesidan-sidan. Di sana akan ditarikan sesolahan Tari Pendet Daa dan Rejang Daa, “Dimanapun setiap rangkaian ritual ini, selalu ditutup dengan tarian rejang, baik di Pura Ulun Suwi, Pura Pasuikan, maupun Pura Bale Agung,” katanya.

Setelah prosesi masucian, krama setempat ngaturang banten pemios, sebagai persembahan kepada Ida Batara.

Saat ritual di Pura Puseh, nedunang Pralingga Ida Batara menjadi kesempatan bagi anak-anak yang hendak metuun ngayah di desa menjadi Daa. Sebab, ini menjadi jalan pintas bagi mereka agar bisa ngayah menjadi Daa. Untuk menjadi Daa di Desa Bungaya, bukan perkara mudah. Karena metuun ngayah menjadi Daa, secara resminya hanya bisa dilakukan saat Usaba Dangsil saja.

Sementara Usaba Dangsil sendiri tak tentu pelaksanaannya. Kadang 10 tahu. Sekali, 20 tahun sekali, bisa juga 25 tahun sekali. Anak-anak yang hendak jadi penandan ini, tak dibatasi usia. Tapi, bukan juga sembarang orang.

Seperti yang terlihat, Selasa malam, ada dua anak gadis yang ikut penandan. Busana yang dikenakan juga berbeda dari Daa yang lain. Krisna menegaskan, biasanya yang ikut dalam proses ini, adalah anak prajuru desa adat.

Karena ketika ayahnya menjadi prajuru, maka harus ada yang “ngayahin” saat patedunan ke desa. Sehingga, agar sah ngayah di desa, disahkanlah menjadi Daa, setelah melalui ritual ngelisin tadi. Saat ini sudah ada 560 Daa dan 475 truna adat di Desa Bungaya. Setiap pelaksanaan aci, mereka semua kompak ngaturang ngayah menjaga dan melestarikan ritual tradisi di desa tua itu. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.