Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Klungkung, Sabtu (2/6) panen rumput laut yang dibudidayakan dalam demplot. (BP/adv)

PERTANIAN rumput laut di perairan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung beberapa tahun belakangan meredup. Hal tersebut menjadi perhatian penerintah Kabupaten melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan. Mengembalikan kejayaannya, pengembangan kembali dilakukan dengan tahap awal berupa demplot di beberapa lokasi. Sabtu (2/6) telah dipanen dan hasilnya baik.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klungkung, I Wayan Durma menyatakan tempat melakukan demplot ini antara lain Nusa Lembongan, Desa Suana dan Batununggul. Tahun ini, berlangsung tiga kali, yakni penanaman pertama pada April dan panen Juni. Kedua, pada Agustus dan panen September. Penanaman ketiga dilaksanakan pada September atau Oktober. “Masa tanam rumput laut tersebut kira-kira empat puluh hari,” ungkapnya.

Disampaikan lebih lanjut, demplot ini untuk mengetahui potensi pengembangan rumput laut untuk selanjutnya. “Nusa Penida masih memiliki potensi untuk budi daya, maka Pemkab mengambil inisiatif untuk melaksanakan demplot di daerah-daerah yang masih memiliki potensi tersebut. Hasil dari panen perdana akan dikaji lebih lanjut,” jelasnya.

Panen yang dilakukan di Nusa Lembongan, hasilnya tergolong baik. Tidak ada serangan hama yang berarti. Panen untuk penanaman selanjutnya diharapkan juga demikian, bahkan semakin baik. Bibit tersebut masih berasal dari lokal jenis Eucheuma spinosum  dan Eucheuma Cottonii Sakul, serta Lombok Timur dengan jenis Eucheuma cottonii. “Dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan tanaman rumput laut tergolong baik. Tumbuh seragam,” sebutnya.

Baca juga:  Kebakaran Lahan Masih Berpotensi Landa Nusa Penida

Jika upaya ini sudah berhasil, Pemkab Klungkung akan mengadakan sosialisasi ke masyarakat untuk dapat membangkitkan kembali semangat dalam budi daya. “Kami ingin pertanian ini bisa bangkit lagi seperti dulu,” tegasnya.

Ketua Kelompok Rumput Laut Kerthi Dharma, I Wayan Suwarbawa sangat mendukung demplot ini. Bahkan disebutkan kegiatan penanaman dan panen dapat disinergitaskan dengan sektor pariwisata yang semakin berkembang. Disampaikan juga, dalam budi daya saat ini, petani tidak menemukan adanya serangan penyakit. “Biasanya penyakit yang menyerang disebut ice-ice. Sekarang tidak ditemukan,” ucapnya.

Disampaikan lebih lanjut, harga jual rumput laut secara nasional tahun 2017/2018 dengan kadar air 35% kisaran Rp 20.000 per kilogram. Naik signifikan jika dibandingkan pada 2015/2016 kisaran Rp 8 sampai 9 ribu. “Untuk harga cukup bagus,” katanya.

Sementara itu, Ketua Forum Perbekel Kecamatan Nusa Penida, I Ketut Gede Arjaya mengharapkan demplot ini bisa memunculkan hasil positif sehingga dapat menarik kembali minat masyarakat dan para Sekaa Teruna untuk kembali membudidayakan. (Adv/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.