GIANYAR, BALIPOST.com – Desa Kenderan, Kecamatan Tegalalang sudah cukup lama ditetapkan sebagai desa wisata. Bahkan, diperkirakan ditetapkan sejak 2014.

Namun pengelolaan sebagai desa wisata belum bisa berjalan dengan baik. “Secara formal Desa Wisata Kenderan memang cukup lama dibuka, tapi secara organisasi bisa dikatakan belum bisa jalan,” ucap Made Arka, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Kenderan, Kamis (31/5).

Diakui kondisi ini terjadi karena belum siapnya SDM mengelola desa wisata. Melihat kondisi itu, dibentuk Kelompok Sadar Wisata Desa Kenderan sejak Maret 2018. “Jadi melalui kelompok ini kami berupaya menggeliatkan lagi Desa Kenderan sebagai desa wisata,” katanya.

Mengawali gerakan, Kelompok Sadar Wisata Desa Kenderan ini menyelenggarakan Festival Holly Water. Festival yang berlangsung selama sehari ini akan diselenggarakan Minggu (3/6). “Festival Holly Water ini salah satu cara untuk membranding Desa Wisata Kenderan, karena dalam festival ini kita akan memperkenalkan air dari sisi lain dan ritual serta pengakuan dari orang-orang yang melakukan verifikasi,” ujarnya.

Dijabarkan Desa Kenderan yang terdiri dari 10 banjar dinas dan 3 banjar adat ini memiliki 11 beji sebagai sumber air. Setiap mata air ini pun memiliki keunikan dan cerita tersendiri.

Baca juga:  Fogging Dijadikan Lahan Bisnis, Warga Dipungut Rp 30 Ribu

Seperti beji di Pura Telagawaja secara arkeologi diketahui dulu sebagai tempat pertapaan. “Di sana  ada ceruk yang secara arkeologi diketahui sebagai tempat pertapaan, dan secara mitologi diyakini juga untuk meminta momongan,” jabarnya.

Festival akan diawali dengan presentasi tentang 11 titik holly water di Desa Kenderan. Setelah itu para tamu akan diajak mengunjungi 3 titik sumber air suci, diantaranya Pesiraman Dedari Desa Adat Delod Belumbang, Pesiraman Darma Keeling di Desa Adat Manuaba, dan Pura Telaga Waja di Desa Adat Kenderan. “Jadi dari siang hingga sore acara kita pecah menjadi di tiga tempat, agar pengunjung mengenal lebih dalam seluruh kawasan Desa Kenderan,” katanya.

Usai mengunjungi tiga sumber air itu, pengunjung juga akan diajak ke air terjun Manuaba yang ada di Desa Kenderan. 15 hari kemudian pengunjung akan diajak mengikuti rangkaian upacara mepeed di Pura Griya Sakti Manuaba.

Di lokasi itu diselenggarakan upacara mepeed ngaturan toya ning. “Dalam upacara ini kalau cewek menbawa beruk ke pura, kalau yang laki membawa bambu berisi air. Itu dihaturkan di Pura Griya Sakti Manuaba, diiringi baleganjur dari setiap banjar,” katanya. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.