Suasana Parade Jukung yang digelar serangkaian Festival Bahari, Rabu (23/5). (BP/sos)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Ratusan nelayan mengikuti parade jukung hias pada Festival Bahari di Pantai Segara, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Rabu (23/5). Kesan semarak sangat kental dengan berbagai bentuk hiasan.

Menginjak pukul 08.00 Wita, nelayan di pantai ini berduyun-duyun. Ada yang mengenakan pakaian adat madya, menghampiri jukung yang dominan berwarna putih. Berjajar rapi dari sisi timur hingga barat.

Tampilannya sangat berbeda dengan hari biasa. Dihias sangat unik. Ada dilengkapi bendera merah putih layaknya menyambut hari Kemerdekaan. Ada pula dengan ukiran yang terbuat dari styrofoam, berpadu apik dengan daun enau yang terpasang layaknya gordin.

Beberapa nelayan juga menyulap jukungnya menjadi ikan raksasa. Dominan warnanya merah, nampak hidup dan menarik dipandang. Penonton pun memanfaatkannya sebagai backround berswa foto.

Satu jam berlalu, jukung berbagai ukuran itu bergiliran memasuki laut dengan gelombang yang tak ganas. Hempasan ombaknya tipis. Kesan semarak sangat melekat. Ada yang bersorak ria, bersama-sama mendorong dengan sekuat tenaga.

Sangat terlihat suasana kebersamaan. Perlahan, tengah lautan layaknya ada pesta besar. Nampak sangat indah ketika jukung-jukung itu silih berganti digoyang gelombang.

Mesinnya dihidupkan, melaju ke timur menuju Pantai Pesinggahan, Kecamatan Dawan. Kemudian kembali ke barat menuju pantai Tegal Besar, Desa Negari, Kecamatan Banjarangkan. Sekitar dua jam, tiba lagi di Pantai Segara. Kedatangannya disambut ria para penonton.

Parade yang baru pertama kali digelar ini juga disambut gembira para nelayan yang sebagian besar sudah berumur. Dijadikan sebagai penghibur rikala tak melaut sejak tiga bulan lalu. Ini juga sebagai media bertemu dan berkumpul bersama nelayan dari desa tetangga. “Ya..cukup menghibur. Karena dari tiga bulan tidak melaut. Ikan tidak ada,” ucap salah satu nelayan, Nengah Sambayasa.

Baca juga:  Kenali Bahaya Erupsi Gunung Agung, Ini Tips Menghadapinya

Menghias jukung sudah dilakukan sejak sepekan lalu. Menghabiskan biaya sekitar Rp 900 ribu. Bahkan, beberapa ada lebih. Pemkab memberikannya bantuan Rp 1.250.000. Cukup meringankan beban ditengah lesunya penghasilan. “Partisipasi ini untuk meramaikan,” imbuhnya.

Ketika dicermati, kesan semarak itu berbanding terbalik dengan nasib para nelayan. Semakin buram dari tahun ke tahun.

Itu dirasakan, Wayan Ribeg. “Jadi nelayan sangat bergantung dengan alam. Kadang sering tidak dapat kalau melaut. Biaya yang keluar cukup besar,” tuturnya.

Tak dimungkiri, profesi ini tak lagi bisa diandalkan sebagai penyambung napas. Nelayan harus berjuang mendapatkan pundi-pundi rupiah dengan menekuni pekerjaan lain. Sebagai tukang pembuat boat atau angkut barang ke sampan menjadi pilihan. “Banyak yang kerja lain untuk nambah penghasilan. Ini juga membuat anak-anak muda tidak mau menekuni,” sebutnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Klungkung, I Wayan Durma mengatakan parade ini untuk membangkitkan semangat nelayan untuk tetap melaut. Menopang pendapatannya, juga didorong untuk bisa mengolah ikan menjadi produk bernilai jual lebih tinggi. “Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meringankan beban nelayan. Soal penghasilannya, sangat bergantung dengan kondisi alam,” pungkasnya. (Sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.