kerajinan
Perajin bambu di Kayubihi sedang mengerjakan produk kerajinan berupa nampan untuk diekspor ke luar negeri. (BP/ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Pasar ekspor produk kerajinan bambu yang dihasilkan perajin di Desa Kayubihi, Bangli melesu sejak beberapa tahun terakhir. Salah satu pemicunya karena banyaknya saingan produk serupa di pasaran yang dihasilkan para perajin di Cina. Lesunya ekspor kerajinan bambu telah mengakibatkan banyak perajin yang beralih merebut pasar local bahkan beralih profesi.

Perbekel Kayubihi Ketut Widiana saat ditemui Selasa (22/5) mengungkapkan produk kerajinan bambu warganya yang banyak di ekspor ke luar negeri beragam. Diantaranya berupa keroncongan bambu, tempat kue, dan nampan. Adapun negara yang menjadi tujuan ekspor yakni Jepang, Cina, Perancis serta negara Eropa lainnya. “Perajin di desa kami sudah mulai ekspor produk kerajinan bambunya sejak tahun 1990an. Jumlah perajin yang mengekspor produknya saat itu cukup banyak,” ujarnya.

Namun sejak tahun 2012 lalu, jumlah perajin yang mengekspor kerajinan bambu menurun, seiring lesunya pasar ekspor. Menurut Widiana, salah satu yang menjadi penyebab lesunya ekspor karena banyaknya saingan produk serupa di pasaran yang dihasilkan dari Cina. “Sekarang jumlah perajin yang mengekspor produk kerajinannya hanya sekitar 8 orang. Kalau dulu lumayan banyak,” jelasnya.

Baca juga:  Pria Ini Sulap Kaleng Bekas Jadi Miniatur Moge

Tak hanya pasar ekspor, penjualan produk kerajinan di pasar lokal juga diakui Widiana melesu. Penyebabkan lantaran terjadinya persaingan harga yang tak sehat antar perajin maupun penjual. Dijelaskan dia bahwa antara pedagang di pasar local seperti pasar-pasar seni menjual produk kerajinannya dengan harga rendah untuk sekedar laku. Sehingga hal ini berpengaruh terhadap harga jual produk di tingkat perajin. Sedangkan di sisi lain, bahan baku kerajinan, di luar bambu justru terus mengalami kenaikan signifikan. “Penyatuan harga masih sulit,” ujarnya.

Dikatakan juga oleh Widiana dari sekian jenis produk kerajinan bamboo yang dihasilkan warga Kayubihi, produk yang penjualannya masih bertahan normal yakni kerajinan berupa sokasi. Hargannya pun paling bagus dibandingkan jenis produk kerajinan bamboo lainnya. “Sokasi yang paling bertahan karena di pasar local selalu dibutuhkan untuk kegiatan upacara,” jelasnya. (dayu rina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.