Putu Suastini Koster saat berpuisi di malam Grand Final Miss Grand Bali, Sabtu (19/5). (BP/ist)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Ada penampilan yang unik dalam acara Pagelaran Grand Final Miss Grand Bali 2018, Sabtu (19/5) di Harris Hotel Sunset Road, Kuta. Putri Suastini Koster diundang sebagai bintang tamu untuk membacakan puisi.

“Ini kali pertama, satu pagelaran pemilihan putri, dibalut dengan hiburan baca puisi. Saya bahagia bisa diberi kesempatan menyampaikan sesuatu lewat seni, yakni membaca puisi,” tutur istri Wayan Koster ini.

Menurutnya, puisi adalah kata-kata yang indah yang berasal dari kedalaman hati. Pesan apa saja bisa disampaikan lewat puisi. “Kadang kalau kita bicara biasa, bisa saja orang marah mendengar. Namun, kalau lewat puisi bisa saja orang menjadi tersentuh,” kata perempuan yang piawai menari dan teater ini.

Puisi tentang Drupadi karya Dhenok Kristianti menjadi pilihannya. Puisi ini mengisahkan bagaimana perempuan dilambangkan sebagai suatu kehormatan. Ketika kehormatan dipertaruhkan dan kehormatan itu hilang, hilang pula jati diri manusia itu sendiri. “Begitu Pandawa mempertaruhkan kehormatan Drupadi lewat judi, habis sudah, sehingga kehormatan itu sendiri yang mengembalikan jati dirinya. Drupadi bersumpah kalau ia belum menyuci rambut dengan darah Dursasana, ia takkan menggelung rambutnya. Saya harap, generasi muda, khususnya kaum perempuan mampu menjaga kehormatannya,” ungkapnya tentang makna puisi Drupadi tersebut.

Baca juga:  Koster Masih Ngantor di DPR

Ia berharap, dari ajang pemilihan Miss Grand Bali, akan lahir talenta muda yang berkualitas, beritegritas, dan tidak melupakan jati diri sebagai manusia Bali. Dalam ajang ini juga, ia mengajak masyarakat Bali untuk mencintai seni baca puisi.

Dalam pandangannya, walaupun acara pemilihan perempuan bertalenta, seni baca puisi juga bisa masuk. Intinya, puisi itu bisa dimana saja dan kapan saja, tinggal disesuaikan temanya dengan acara dan situasi.

Ia berharap ke depan, puisi dapat menjadi kebutuhan manusia seperti ingin mendengarkan lagu. Mereka rindu menghadirkan para deklamator dan ingin menyerap bahasa kalbu. “Puisi juga bisa juga komersil. Artinya, bisa diupah seperti lawak atau drama,” kata Putri Suastini.

Sayangnya sekarang ini, kata dia, puisi hanya hidup di komunitasnya. Yang baca puisi penyairnya, yang mendengarkan teman penyairnya, bukan masyarakat umum. “Kalau kita kemas puisi dengan menarik, baca puisi adalah seni yang sangat ditunggu dan bisa popular di masyarakat,” ucapnya. (Wirati/Tokoh)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.