Sejumlah warga di Banjar Lemodang, Perancak berusaha menyelamatkan perahu jukung milik nelayan yang tergulung ombak. (BP/olo)

NEGARA, BALIPOST. Com –  Angin kencang disertai gelombang tinggi yang terjadi sejak tiga hari ini di perairan Perancak, Kecamatan Jembrana membuat nelayan kewalahan. Rabu (16/5), dua perahu (jukung) nelayan hancur diterjang ombak saat hendak mendarat.

Kendati sempat tenggelam, warga berhasil menyelamatkan berikut jukung yang sudah hancur. Selain perahu, ombak juga memutuskan sejumlah pelampung yang dipasang di perairan antara Air Kuning dengan Perancak. Pelampung-pelampung itu dipasang oleh para peneliti di Balai Riset dan Observasi Laut (BPOL) untuk alat ukur kualitas air.

Dari pengamatan di Pantai Perancak, Kamis (17/5), tak ada nelayan yang kembali melaut. Para nelayan memilih libur melaut karena cuaca yang tidak menentu tersebut. Apalagi sehari sebelumnya sudah ada dua perahu yang hancur diterjang ombak. “Sekarang sudah tidak ada lagi (melaut), angin cukup kencang,” terang Ketut Darna, salah seorang nelayan.

Sejak pagi ombak juga cukup tinggi disertai angin kencang. Sementara dua nelayan yang jukungnya diterjang ombak, nampak mulai memperbaiki. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun para nelayan ini tidak bisa beraktivitas lantaran kondisi jukung yang hancur. Kedua perahu jukung ini terbalik digulung ombak seusai melaut.

Kedua korban tersebut  I Ketut Purtama asal Banjar Tibu Keleneng dan I Nengah Wartama asal Banjar Lemodang, Perancak. Menurut sejumlah saksi, sejatinya saat melaut kondisi cuaca masih cerah sehingga banyak nelayan yang melaut. Namun di saat hendak kembali ke darat, ombak mulai besar disertai angin.

Baca juga:  Jukung Terbalik, Dua Nelayan Berhasil Selamat

Kepala Kewilayahan Banjar Lemodang, I Nengah Budi Astawan dikonfirmasi kemarin membenarkan adanya gelombang tinggi yang terjadi beberapa hari belakangan ini di Perancak. Dua jukung yang rusak itu kemarin memang mendarat di Pantai Perancak masuk wilayah Banjar Lemodang. Kedua nelayan yang tergulung ombak itu berhasil ke tepi diselamatkan warga yang saat itu sedang ramai menunggu perahu-perahu turun. “Tidak ada korban jiwa, tapi perahu rusak terutama katir dan mesin juga terendam air,” tambahnya.

Bagian jukung yang berhasil diselamatkan ke tepi juga masih teronggok di pinggir pantai. Selain merusak jukung nelayan, ombak besar kemarin juga mengakibatkan sejumlah pelampung yang sengaja dipasang untuk penelitian lepas. Pelampung-pelampung itu tersangkut di bebatuan karang masuk wilayah Banjar Mekarsari. Pihak BPOL yang kantornya berada di Desa Budeng, mengaku telah berkoordinasi dengan desa Perancak terkait alat-alat untuk mengukur kualitas air yang hanyut tersebut. Dari informasi, alat ukur yang dipasang itu merupakan satu diantara enam alat serupa yang dipasang di enam titik di seluruh Indonesia.

Sementara itu dari informasi Stasiun Klimatologi Negara, mencatat bahwa untuk angin di darat dalam lima hari terakhir kecepatan maksimum antara 10-15 knot (15-28 km/jam). Sedangkan di laut, untuk perairan selatan bali angin dapat mencapai 25 knot (45 km/jam). Pada bulan Mei ini angin cukup kencang rata-rata antara  5-20 knot (surya dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.