QUANZHOU, BALIPOST.com – Pada 1961 silam, tak sedikit masyarakat keturunan Tionghoa di Bali memutuskan untuk kembali “pulang” ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Apalagi pemerintah setempat menyambut mereka dengan tangan terbuka.

Salah satunya menjamin tempat tinggal layak di Kota Quanzhou, Provinsi Fujian, RRT, yang di kemudian hari dikenal sebagai Kampung Bali Nansan. Kendati sudah 57 tahun berlalu dan beregenerasi, orang-orang yang tinggal di kampung ini tetap menggunakan Bahasa Bali sebagai bahasa pergaulan setelah Mandarin.

“Uling Cina ke Bali, langsung uling Bali buin melipetan ke Cina (Dari Tiongkok merantau ke Bali. Lalu dari Bali kembali lagi ke Tiongkok),” ujar Ketua Kampung Bali Nansan, Se Poh dengan dialek Buleleng yang masih kental.

Padahal, pria berkepala plontos ini lahir di Tiongkok. Namun, kedua orangtuanya tetap berkomunikasi dengan bahasa Bali pasca kembali dari merantau ke Pulau Dewata. Faktor inilah yang membuatnya turut fasih berbahasa Bali.

“Men ube masuk mare bise ngomong Cina (Ketika sudah masuk sekolah, baru bisa berbahasa Mandarin),” imbuh Se Poh yang masih sering mengunjungi saudara-saudaranya di Bali, khususnya di Temukus, Buleleng.

Menurut Se Poh, ada sekitar 600 KK yang tinggal di Kampung Bali Nansan. Semuanya merupakan “mantan” perantau di Bali ataupun keturunan (anak, cucu dan cicit) dari perantau tersebut.

Dulu, pemerintah RRT menyediakan tanah untuk perantau yang tergolong mampu agar membangun rumahnya sendiri. Setiap keluarga diberikan tanah seluas 120 meter persegi.

Sedangkan bagi yang tidak mampu disediakan apartemen, masing-masing seluas 90 meter persegi dengan harga miring. Dari normalnya 6000-8000 Yuan per meter persegi, hanya diminta membayar 688 Yuan saja per meter persegi. Keluarga yang tergolong sangat miskin bahkan diijinkan menempati apartemen secara cuma-cuma.

“Lamen uling Bali, lekad di Bali mai ke Cina, pemerintah maang meli umah mudah gatine. Mudahne sing kodag-kodag. Ane ngelahan dik mare ngidang nyujukang umah, baange tempo atiban. (Perantau Tionghoa di Bali yang kembali ke Tiongkok disediakan apartemen dengan harga yang sangat murah. Bagi yang mampu, diberi batas waktu satu tahun untuk membangun rumahnya sendiri),” papar pria yang akrab disapa UU ini.

Kendati terbilang sangat sedikit, lanjut Se Poh, masyarakat di Kampung Bali Nansan sangatlah akur. Secara rutin juga mengadakan acara berupa pertunjukan tari-tarian seperti legong, hingga membuat babi guling bersama. Hal sama juga dirasakan Tan Kwok Cin (70) yang kembali ke Tiongkok pada 1961.

“We tahun 48 lekad di Buleleng. Dini we ajak nyame-nyame akutus. We liu ngelah nyama, ade mase di Buleleng, di Badung. (Saya lahir di Buleleng tahun 1948. Saya kembali ke Tiongkok bersama 8 saudara),” ujarnya.

Baca juga:  Kopi Lokal Harus Kuasai Dunia

Di Tiongkok, kakek Tan bekerja sebagai dokter umum. Namun kini sudah pensiun. Sama seperti Se Poh, bahasa Bali juga menjadi bahasa kesehariannya.

Meski hal itu tidak begitu berlaku pada cucu-cucunya atau generasi yang lebih muda. Mereka tidak banyak berkomunikasi dengan bahasa Bali walaupun mengerti artinya.

“Liu anake Bali mase melali mai. Ye ngorang, kenken ne adi cerik-cerik sing ade bise ngomong Bali. Ningehang bise ye, makan, kayeh, melali. ‘Nyen de melali’, bedik-bedik ‘nah’, keto. (Anak-anak mengerti, tapi mau berbicara sedikit-sedikit),” jelasnya.

Bai Rui Huan merupakan keturunan Tionghoa yang pernah merantau di Pupuan, Tabanan. Dirinya kembali ke Tiongkok saat berumur 9 tahun bersama kedua orangtua pada bulan 4 tahun 1961. Yakni dengan menaiki kapal selama satu minggu dan mendarat di Guangzhou sebelum akhirnya tinggal di Quanzhou.

“We lahir di Bali, di Pupuan. Papah keturunan Tionghoa. Mamah, nenek liunan nak Bali. Duuran nenek mase nak Bali. (Saya lahir di Pupuan. Ayah keturunan Tionghoa, sedangkan ibu orang Bali asli),” katanya.

Menurut Bai, keturunan Tionghoa yang tinggal di Kampung Bali Nansan dulunya merantau tersebar di hampir semua kabupaten/kota di Bali. Namun yang mendominasi adalah perantau dari Denpasar dan Buleleng.

Ketua Perhimpunan Perantau Tionghoa, Chen Jin Hua mengatakan, Kampung Bali Nansan berada di ruas jalan Wan Hong. Lokasinya mudah dicapai lantaran sudah ada dua halte yang menjadi penanda kampung itu.

Ada pula gapura berarsitektur Bali di jalan masuk menuju kampung seluas 15 ribu meter persegi tersebut. Untuk lebih memberikan “rasa” Bali, disini juga akan segera dibangun Taman Kebudayaan Adat Bali seluas 5.000 meter persegi.

“Pemerintah sudah menginvestasikan 2,5 juta Yuan renmibi untuk fisik bangunan. Namun kami kesulitan untuk mendapatkan fasilitas pendukung seperti patung, ukiran-ukiran, lukisan, dan lainnya yang bernuansa Bali,” ujarnya.

Menurut Chen, Juli ini sekitar 60 warga Kampung Bali akan dikirim ke Bali untuk mencari solusi atas fasilitas pendukung tersebut. Pihaknya berharap pula bantuan berupa pelatihan menari Bali, tenaga guru yang bisa mengajarkan bahasa Indonesia, hingga arsitek yang memahami arsitektur khas Bali.

Keberadaan Taman Kebudayaan Adat Bali diharapkan menarik banyak kunjungan masyarakat di RRT agar selanjutnya tergugah untuk datang langsung ke Pulau Dewata.

Kota Quanzhou sudah ada sejak abad ke-3, yang diapit sungai Jinjiang dan sungai Luoyang, serta berhadapan dengan Teluk Quanzhou. Kota ini juga disebut Zayton karena masyarakat setempat menyukai bunga erythrina.

Kepercayaan yang berkembang, ketika tanaman ini berbunga akan mendatangkan kesejahteraan. Di sini juga ada bekas-bekas peninggalan kuil Hindu yang merupakan satu-satunya di Tiongkok. (Rindra Devita/balipost)

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.