Salah satu fasilitas umum di akomodasi pariwisata Amed. (BP/gik)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Sejak Gunung Agung mulai erupsi hingga kembali tenang, pariwisata Bali menjadi sangat rentan. Tak terkecuali, salah satu ikon pariwisata Karangasem, di Amed. Meski Gunung Agung sudah mulai tenang, kunjungan pariwisata ke Amed belum bisa normal. Ditambah permasalahan klasik yang tak kunjung tertangani sampai sekarang, yakni persoalan jalan rusak, lampu penerangan jalan hingga minimnya fasilitas umum.

Sejak permasalahan dampak erupsi Gunung Agung, pelaku pariwisata merasakan upaya untuk mengembalikan kejayaan Amed sangat minim. “Yang terjadi, selama ini kita di Amed selama jalan sendiri-sendiri. Sekarang lumayan sudah ada yang datang. Tapi masih jauh dari normal,” kata salah satu pelaku pariwisata Amed, Ketut Dayuh, saat ditemui di Amed, Kecamatan Abang, belum lama ini.

Pengelola Aryaamed Resort ini menegaskan, tingkat hunian saat ini masih rendah, hanya sekitar 20 persen. Mayoritas wisatawan yang datang enggan untuk menginap. Mereka kebanyakan datang saat akhir pekan, untuk melihat keindahan alam bawah laut yang menjadi ikon Amed saat pagi, kemudian sore sudah balik lagi ke tempat mereka menginap di Denpasar. Saat ini, pelaku pariwisata Amed menunggu momen puncak kunjungan pada Agustus nanti. Jika tetap sepi seperti sekarang, maka masa depan Amed perlu dipikirkan lebih jauh.

Dayuh menambahkan, biasanya saat memasuki Agustus tingkat hunian akomodasi pariwisata di Amed bisa mencapai 80 persen. Tetapi, mengingat rentan pariwisata akibat aktivitas Gunung Agung yang kerap mengembuskan abu vulkanik, pihaknya tetap khawatir dengan masa depan Amed. “Sejak dulu Amed ini tumbuh sendiri. Promosi dari pemerintah jarang, apalagi dukungan fasilitas umum. Jalan kecil bus besar tak bisa masuk. Kondisinya rusak, juga tak ada lampu penerangan jalan. Tolonglah buat Amed ini tak terlihat seram,” terang Dayuh.

Baca juga:  Polisi Tahan Pelaku Illegal Logging

Selain dorongan promosi, perbaikan Infrakstruktur dan fasilitas umum, Dayuh menyarankan agar pemerintah daerah mampu memainkan peran dalam bidang transportasi. Permasahan Amed sejak dulu adalah lokasinya yang jauh dari pusat kota seperti Denpasar.  Dia berharap pemerintah daerah bisa berperan disana, untuk menjamin adanya konektivitas waktu, sehingga wisatawan bisa tiba di Amed tepat waktu. “Contohnya, bagaimana membuat transportasi dari bandara ke Amed menjadi lebih lancar dan murah,” tegasnya.

Mayoritas wisatawan yang datang ke Amed adalah dari Eropa. Berbeda dengan kunjungan wisatawan Bali secara umum yang mayoritas dari Tiongkok. Mereka datang ke Amed, selain melihat keindahan alam bawah laut, juga mencari keheningan di tengah alam yang tenang. Sehingga yang datang kebanyakan wisatawan yang sudah lansia dan pasangan muda yang punya rencana bulan madu. “Kalau wisatawan yang panatik Amed, bisa satu minggu hingga dua minggu di Amed,” ujar Dayuh, seraya mengatakan tak pernah menutup Aryaamed Resort dan merumahkan karyawan walaupun terjadi beberapa kali erupsi Gunung Agung. (bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.