Mobile VCT, jemput bola ke populasi kunci di kafe-kafe bekerjasama dengan pengelola kafe dan aparat setempat, Sabtu ( 21/4). (BP/kmb)

NEGARA, BALIPOST.com – Sepekan belakangan ini hasil mobile Voluntary Conceling Test (VCT) yang dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Jembrana kembali menemukan empat orang yang positif HIV.

Ketua Pelaksana KPA Kabupaten Jembrana, dr. I Putu Suasta didampingi Sekretaris KPA Kabupaten Jembrana, dr. I Gusti Bagus Oka Parwata Selasa (1/5) mengatakan pihaknya dalam sepekan ini melakukan VCT.

Dari tes tersebut pihaknya kembali menemukan kasus baru positif HIV di Kabupaten Jembrana. Selama sepekan pihaknya menyasar beberapa wilayah yang menjadi populasi kunci penyebaran HIV-AIDS di Jembrana yakni Desa Delodbrawah, Mendoyo dan Kelurahan Gilimanuk, Melaya.

Pihaknya bersama Puskesmas yang mewilayahi bekerjasama dengan para pengusaha kafe melakukan VCT terhadap para pekerja kafe. Keberadaan cewek kafe juga diduga tidak sedikit yang nyambi sebagai wanita penjaja seks (WPS).  Namun karena di Jembrana tidak ada lokalisasi sehingga  waitres kafe kerap menjadi WPS tidak langsung.

Demikian juga dari hasil konseling dan testing VCT  yang dilakukan petugas VCT Puskesmas II Melaya di Gilimanuk. Dari 20 orang  pekerja kafe yang ada di kelurahan Gilimanuk, pihaknya menemukan 2 orang yang hasil testnya reaktif HIV dan 2 orang spilis.

Hasil konseling dan testing VCT yang dilakukan petugas VCT Puskesmas II Mendoyo di Pergung terhadap 41 pekerja kafe dikawasan wisata pesisir Desa Dolod Berawah  menemukan 1 orang yang reaktif HIV dan 2 orang spilis.

Selain menyasar populasi kunci tersebut, pihaknya bersama Puskesmas I Negara di Kaliakah juga menyasar para narapidana yang menghuni Rutan Kelas IIA Negara di Kelurahan Baler Bale Agung. Dari hasil konseling dan testing VCT terhadap 40 sampel Warga Binaan Pemasyarakatan ditemukan hasil 1 orang reaktif HIV.

Baca juga:  Perdagangan Orang, Ancaman Serius HAM

Dikatakan seluruh pekerja kafe yang positif HIV-AIDS tersebut merupakan WPS tidak langsung dan merupakan orang luar Jembrana yang memiliki mobilitas tinggi.

Menurut Suasta, cewek kafe yang positif itu bukan warga Jembrana. Sehingga  mereka bisa datang dan keluar Jembrana setiap saat, ada yang indekost dan memang belum pernah ditest VCT. “Jadi mereka  tidak mungkin datang ke Puskesmas untuk VCT sehingga kami yang turun ke populasi kunci,” jelasnya.
Suasta tidak memungkiri orang yang positif  HIV tersebut sebelumnya juga telah menularkan HIV di beberapa wilayah termasuk juga di Jembrana.

Menurut Suasta ancaman bahaya penularan HIV-AIDS ini belum hilang apalagi WPS yang ada berpindah-pindah, sehingga semua orang harus diwaspadai dengan memproteksi diri agar terhindar dari penularan HIV-AIDS ini.

Dari data yang diperoleh di KPA Kabupaten Jembrana jumlah kasus HIV positif yang ditemukan pada tahun 2017 lalu mencapai 107 orang dan kasus terbaru hingga Maret 2018 sudah mencapai 27 orang dengan HIV positif. Pihaknya kini juga mewajibkan ibu hamil untuk test HIV agar menyelamatkan bayi dari penularan HIV.

Suasta mengatakan dari 895 kasus komulatif, hingga Maret 2017 yang ambil ARV hanya 290 orang. Sebagian sudah meninggal karena berobat tidak teratur atau putus berobat. Sedangkan yang rutin berobat setiap hari masih hidup produktif walaupun tetap beresiko menularkan melalui hubungan seks yang tidak sehat. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.