Anak ketiga korban terseret arus Pantai Klotok saat berada di RSUP Sanglah. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Komang Sutrisna (22) tampak terpukul kehilangan ibunya Ni Wayan Sutami (52). Ni Wayan Sutami merupakan korban yang terseret arus di Pantai Watu Klotok, Senin (23/4).

Sehari setelah tergulung ombak, Sutami ditemukan di Pantai Sanur, Denpasar pada Selasa (24/4) pukul 15.30 dalam kondisi tidak bernyawa. Sutrisna merupakan anak kedua dari Ni Wayan Sutami. Ia menuturkan terakhir bertemu ibunya pada hari Minggu lalu. Karena ia harus bertugas di Polda Bali Denpasar.

Sehari sebelum kejadian, orangtuanya, Sutami dan Nengah Karna, hanya berpamitan dengan orang rumah. Mereka berpamitan dari rumah pukul 09.00. Selain hendak malukat, keduanya berencana akan pergi ke pasar. Tak disangka hari itu merupakan pamitan untuk pergi selamanya.

Sebelumnya, sang ayah sempat menuturkan padanya bermimpi tentang gigi depan yang tanggal. “Iya bapak mimpi sebelumnya gigi depannya tanggal dua,” tuturnya ketika ditemui di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, Selasa (24/4).

Rupanya firasat itu merupakan firasat kehilangan ibunya. Setelah lebih dulu ditinggal kakaknya (anak kedua), kini Sutrisna juga ditinggal ibunya.

Baca juga:  Kondisi Bangsa Kini Tak Sesuai dengan Cita-cita Kemerdekaan

Ibunya memang kerap malukat ke beberapa tempat di Bali. Lantaran ibunya memiliki riwayat sakit sesak nafas. Sakit itu dialami sejak dua tahun terakhir. Maka dari itu, ibunya dianjurkan malukat tiga kali. “Kemarin yag ketiga kalinya,” ungkap pria asal Banjar Semseman, Desa Sangkan Gunung, Sidemen, Karangasem.

Dikatakan kondisi bapaknya saat ini masih trauma atas kepergian ibunya. Karena selain kehilangan istri, ayahnya juga hampir ikut terseret ombak. Namun berhasil diselamatkan kakek-kakek petani batu setempat.

Rencananya jenazah ibunya dipulangkan tapi hanya dikubur karena masih ada odalan di rumahnya.

Petugas BPBD Denpasar mengatakan, arus di Pantai Watu Klotok memang deras. Ombaknya juga besar. Di Pantai Watu Klotok, memang ada tempat khusus malukat. Sayangnya, pedagang di Pantai tersebut tidak melihat korban malukat disana, sehingga tidak sempat dicegah. “Karena disana ada tempat yang khusus untuk malukat, tapi pedagang disana tidak melihat korban malukat di tempat itu. Seharusnya di sebelahnya,” tutur pria yang juga satu kampung dengan korban itu. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.