Wantipres RI memantau pengolahan sampah dengan metode TOSS di Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan, Selasa (24/4). (BP/adv)

UPAYA Pemkab Klungkung menjadikan sampah sebagai bahan energi terbarukan melalui metode Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) yang bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teknik (STT) PLN Jakarta memantik keinginan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantipres) RI untuk melihat langsung segala prosesnya, Selasa (24/3).

Cara ini dipandang sangat positif dan layak dikloning oleh daerah lain. “Apa yang didemonstrasikan Klungkung ini, menunjukkan kita punya kapasitas untuk membangun industri sendir, terutama terkait dengan energi terbarukan,” ungkap Anggota Wantipres, Suharso Monoarfa.

Ia yang berkunjung ke TOSS Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan dan di Desa Takmung, Kecamatan Banjarangkan menyebutkan saat ini produksi energi masih bergantung dengan fosil yang tidak ramah lingkungan, harganya fluktuatif, rentan terjadi kelangkaan dan harus dikembangkan dalam satuan besar. “Banyak negara di dunia sudah mengembangkan energi ramah lingkungan. Kemudian secara komunal, dalam satuan desa atau kecamatan dan terdesentralisasi. Saya senang Pemerintah Daerah Klungkung mau menerima inovasi ini (TOSS-red) dan menjadikan sebuah kenyataan. Bukan hanya berhenti pada sebuah teori,” tegasnya.

Terobosan yang dilakukan ini tak dipungkiri belum berjalan sempurna. Masih ada kendala yang membelit. Namun demikian, ini sudah bisa memberikan informasi kepada masyarakat dan daerah lain bahwa ada alternatif lain untuk menghasilkan energi. Kedepan, metode ini diharapkan bisa dikloning yang diawali dari Bali.

Baca juga:  Rayakan Ramadan, Harper Kuta Gelar Buka Puasa Bersama

“Mudah-mudahan juga Klungkung sendiri bisa menawarkan ke Pemrov untuk pengelolaan sampah di TPA Suwung. Tawarkanlah bahwa Klungkung punya pengalaman. Dan betul-betul dilaksanakan langsung,” sebutnya.

Monoarfa yang datang bersama jajarannya juga secara terang-terangan menyatakan bangga dengan inovasi ini. Jika digarap secara serius, memungkinkan menjadi contoh bagi negara lain dan bisa memenuhi kebutuhan ekspor. “Saya kira ini bisa menjadi contoh bagi negara lain. Dan ketika kita bisa membungkusnya dengan baik, bisa diekspor ke negara lain,” imbuhnya.

Rektor STT PLN Jakarta, Supriadi sangat mengapresiasi langkah pemkab yang tertarik menerapkan hasil hasil penelitiannya. Diakui, empat bulan berjalan, kekurangan fasilitas masih terjadi. Hal tersebut akan terus dievaluasi untuk mendapatkan hasil terbaik. “Kami sangat mengapresiasi upaya pemkab dalam penanganan sampah menggunakan TOSS. Perguruan tinggi melakukan penelitiannya. Kalau tidak ada yang mencoba, ya hilang. Untung ada pemkab klungkung yang menerapkan,” terangnya.

Penjabat Sementara Bupati Klungkung, Wayan Sugiada mengatakan program ini baru diterapkan 12 dari 59 desa/kelurahan. Diharapkan kedepannya semakin banyak desa yang mengikuti. Terkait kekurangan fasilitas, pemkab berupaya akan membantu dalam pengadaan. “Tentu kami menginginkan program ini bisa diketuk tularkan ke daerah lain,” pungkasnya. Hasil TOSS berupa pellet, imbuhnya akan dibeli PT. Indonesia Power untuk diuji coba di Lombok dalam waktu dekat. (adv/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.