Budi Adnya memperlihatkan Kereb yang nantinya akan digunakan di atas watangan. (BP/ist)

TABANAN, BALIPOST.com – Ada yang berbeda dalam rangkaian kegiatan upacara piodalan sesuunan Ratu Bagus, Banjar Temuku Aya, Desa Tangguntiti, Kecamatan Selemadeg Timur. Pada Selasa (24/4) akan digelar upacara Calonarang spektakuler, watangan pada Calonarang ini akan dibakar.

Bahkan panitia pun sudah mempersiapkan diri jika kemungkinan nantinya ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Tidak hanya itu, yang bertugas menjadi bangke juga sudah belajar sastra selama tiga bulan, karena nantinya Watangan para Calonarang ini akan dibakar.

Pementasan Calonarang dengan judul “Nyai Ratna Sumedang” akan digelar di areal lahan kosong sebelah barat Pasraman Cakra Ca Buana, Selasa malam. Rencana awal pementasan akan dilakukan di Lapangan Umum Selemadeg Timur, namun karena masih pembenahan rumput, akhirnya dipentaskan di areal Pasraman Cakra Ca Buana.

Persiapan untuk pementasan inipun sudah dilakukan pihak panitia. Panggung dibuat lengkap dengan tragtag. “Pementasan Calonarang Watangan mebakar ini bukan pertunjukkan kawisesan (pengetahuan) atau perang ilmu, tetapi murni menghibur pencinta calonarang sekaligus mengajegkan seni budaya warisan leluhur,” beber Guru Pasraman Cakra Ca Buana, I Bagus Putu Budi Adnya.

Lanjut disampaikannya pertunjukkan ini murni hanya untuk sebuah karya seni, dengan unsur magis, mistik dan unsur ritual, dan bukan bersifat gaya-gayaan. “Tentu saja mana ada manusia yang mau jadi watangan tanpa apa-apa, jelas didalamnya ada dua unsur magis dan mistik dan unsur ritual. Bukan sebagai unjuk kawisesan,” terangnya.

Dikatakan, pementasan calonarang watangan mebakar juga sekaligus memperingati hari ulang tahun Pasraman Cakra Ca Buana ke-10 tahun. Awalnya memang hanya niat murni dan kepercayaan batin. Disamping di Pasraman Cakra Ca Buana lebih cendrung belajar olah rasa dan olah batin.

Menurutnya, memilih watangan mebakar karena bercermin dari kehidupan yang saat ini dirasa panas sekali. Namun panasnya ini pada akhirnya akan membawa berkah. “Ide awal muncul dari ajian geni sastra, tidak ada pawisik atau apa. Karena saya senangnya belajar di kawisesan, sehingga kami masukkan ke sesi calonarang,” bebernya.

Baca juga:  Nyoman Arjasa Wenten, Seniman Tari dan Karawitan Bali yang Mendunia

watangan mebakar nantinya tidak akan diperciki tirta pangentas seperti mayat pada umumnya. Melainkan memakai tirta panglukatan Panca Geni. Dimana efek yang dimunculkan adalah pembersihan jiwa, mental dan diri.

Yang akan menjadi watangan nantinya dalam pagelaran Calonarang adalah I Ketut Suwitna, warga Banjar Tangguntiti Gede, Desa Tangguntiti, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan. Meskipun baru pertama kali menjadi watangan, pun peran yang akan dilakukan sudah ada kesepakatan dari pihak keluarga. “antara keluarga sudah ada kesepakatan,” tegasnya.

Ketut Suwitna sejak 3 bulan lalu bahkan sudah belajar Tattwa Geni Ajian Astra.

Bahkan Budi Adnya juga mengakui pementasan ini cukup ekstrem karena dalam 4 kali latihan, dua kali sempat terbakar. Namun ia menegaskan tetap akan bermain api dengan memperkuat olah rasa dan olah batin tersebut. “Mudah-mudahan lancar, namun jika terjadi hal negatif kami akan bertanggung jawab,” tegasnya.

Bahkan kegiatan ini menurut Budi Adnya sudah diberikan izin dari Desa Tangguntiti dan dari pihak Desa Pakraman serta dari pihak kepolisian Polsek Selemadeg Timur. “Pertunjukkan dimulai dari jam 19.00 Wita, dan puncaknya watangan mebakar pada pukul 24.00 Wita,” bebernya.

Terkait pengamanan, Kapolsek Selemadeg Timur, AKP I Putu Oka Suyasa menerangkan, pihaknya sudah mengeluarkan rekomendasi atas izin yang telah dibuat oleh panitia terkait pementasan Calonarang Watangan mebakar. Sehingga selama acara berlangsung anggota akan berjaga. “Seluruh anggota Selemadeg Timur kami turunkan untuk acara tersebut,” jelas AKP Suyasa. (Puspawati/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.