AMLAPURA, BALIPOST.com – Hasil paruman jajaran Desa Adat Besakih dan Panglingsir Pemangku di Pura Besakih, Sabtu (21/4), akan dilaksanakan prayascita dan bendu piduka di Pura Gelap. Bendesa Besakih, Jro Mangku Widiartha juga memastikan ritual tersebut akan digelar pada pagi hari.

Humas MO Besakih Gusti Mangku Bagus Kariawan, menambahkan MO Besakih sudah berkoordinasi dengan Pecalang Desa Adat. Penjagaan keamanan di pintu-pintu masuk Pura Besakih yang ada di kawasan Pura  Besakih, akan diperketat oleh petugas, baik dari pecalang maupun dari pihak keamanan MO Besakih. “Mudah-mudahan dengan adanya sinergi yang baik, ke depannya tidak terulang lagi kejadian-kejadian serupa yang dapat ngeletehin kesucian pura di kawasan Besakih,” katanya.

Terkait kasus ini, Penyarikan Madya MMDP Karangasem, I Gede Krisna Adi Widana, meminta dihentikannya eksploitasi pura, khususnya Pura Besakih sebagai objek wisata.

Sejak awal pihaknya sudah memperingatkan, stop menjadikan pura untuk memenuhi kepentingan pariwisata. Pura menurutnya sebaiknya hanya digunakan sebagai tempat sembahyang umat Hindu.

Baca juga:  Tampil Beda, KPPS Banjar Blungbang Payas Lelunakan

Jika pengelola atau pengempon pura tak punya sikap tegas, peristiwa-peristiwa serupa pasti akan terus berulang di Besakih, maupun pura lainnya di Bali. “Orang yang tidak punya niat sembahyang jangan dibiarkan masuk ke pura. Kalau tak bertujuan sembahyang, sebaiknya lihat dari luar saja,” kata Krisna.

Dia meminta peristiwa ini menjadi pelajaran bersama, bahwa pariwisata jangan sampai kebablasan. Batasan-batasan terhadap kepentingan umat dan pariwisata harus jelas, sehingga tak menimbulkan masalah serupa dikemudian hari.

Terlebih, ini berkaitan dengan keyakinan terhadap Tuhan yang sifatnya sangat sensitif di tengah masyarakat. Melihat peristiwa bule manjat dan duduk di padmasana ini, persoalannya bukan pada kapan itu terjadi, baik sebelum atau sesudah Karya Ida Batara Turun Kabeh.

Tetapi, kenyataan pahitnya adalah peristiwa tersebut telah terjadi dan sangat melukai perasaan umat Hindu di Bali. “Desa adat dan MO Besakih harus menyikapi serius masalah ini. Gelar paruman buat aturan yang tegas, mana untuk sembahyang mana untuk pariwisata,” tegasnya. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.