Upacara militer yang digelar Senin (16/4), memperingati hari lahirnya MBOe DPRI Sunda Kecil di Desa Munduk Malang Selemadeg Timur. (BP/san)

TABANAN, BALIPOST.com – Upacara secara kemiliteran dalam rangka memperingati hari lahirnya Markas Besar Oemoem (MBOe) Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (DPRI) Sunda Kecil di Desa Munduk Malang Selemadeg Timur, Senin (16/4), kembali dilakukan.

Hal ini setelah lima tahun vakum, dimana setiap tahun hanya diperingati dengan upacara biasa saja. Kini, di hut ke 72, kembali diselenggarakan peringatan dengan upacara militer.

Menurut Rai Riawati dari Pemuda Panca Marga (PPM) Bali yang bertindak sebagai panitia, perayaan dengan upacara Militer terakhir dilakukan pada tahun 2013. Tahun-tahun setelahnya dilakukan dengan perayaan biasa yaitu dengan acara seremonial berupa potong tumpeng.

“Upacara Militer kembali digelar karena kami takut generasi muda lupa jika ditempat dan tanggal inilah MBOe DPRI Sunda Kecil lahir. Pada momen inilah menjadi cikal bakal terbentuknya TNI Kodam IX Udayana dimana Pangdam IX Udayana pertama adalah I Gusti Ngurah Rai,” ujarnya.

Sementara itu I Made Adi Widya Yowana dari PPM Bali menambahkan tujuan dari peringatan hari lahir MBOe DPRI Sunda Kecil ini sendiri merupakan upaya untuk mengenang kembali perjuangan para pahlawan dan sebagai bentuk apresiasi perjuangan mereka. ‘’Peringatan ini juga untuk mengetahui titik-titik perjuangan bangsa terutama Bali dengan pimpinannya I Gusti Ngurah Rai,’’ ujarnya.

Baca juga:  Jenazah Janda I Gusti Ngurah Rai Dimandikan

Ia juga menjelaskan, MBOe DPRI Sunda Kecil memiliki sejarah yang luar biasa. Markas ini mampu menyatukan seluruh tentara dan pejuang di Bali dalam satu komando, mulai Negara, Tabanan hingga Buleleng dibawah pucuk pimpinan I Gusti Ngurah Rai. Setelah MBOe berdiri, Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya membentuk laskar rakyat. Mereka bertugas membantu perjuangan pasukan tentara. Di markas ini, komando perjuangan melawan Belanda dipusatkan.

Dari MBOe, Gusti Ngurah Rai menyatukan komando perjuangan. Pasukannya sempat menghindari pantauan Belanda dengan long march dari MBOe menuju lereng Besakih, Karangasem. Namun, akhirnya kembali lagi ke daerah Bengkelanyar, Penebel. Di tempat ini, Gusti Ngurah Rai mendirikan markas sekaligus balai perawatan pejuang yang terluka. Hingga, Gusti Ngurah Rai turun gunung ke Marga dan gugur dalam Puputan Margarana.

Selain upacara peringatan, dalam acara tersebut juga dilakukan penyerahan hadiah dan piala bergilir I Gusti Ngurah Rai untuk Lomba Kreasi Baris Berbaris (LKBB) tingkat SMA/SMK se Bali. Hadir dalam peringatan tersebut selain unsur TNI, Kepolisian dan Siswa juga dari pihak Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP), Veteran LVRI Bali serta unsur Pemerintahan Propinsi Bali dan Kabupaten Tabanan. (wira sanjiani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.